Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

23 Januari 2012

POT YANG RETAK




Seorang pembawa air di Cina memiliki dua buah pot yang besar. Masing-masing digantung pada ujung tongkat yang ditaruh di lehernya. Salah satu potnya retak, sedangkanpot yang satunya masih dalam keadaan bagus dan selalu penuh dengan air. Pada akhir perjalanan yang panjang dari sungai ke rumah, pot yang retak itu hanya tinggal terisi setengah.

Hal ini berlangsung setap hari selama dua tahun. Pembawa air itu hanya membawa satu setengah pot saja. Tentu saja, pot yang masih bagus itu sangat bangga dengan apa yang telah ia lakukan. Kerja yang sempurna. Akan tetapi, pot yang retak itu merasa malu karena ketidaksempurnaanya. Ia merasa sangat sedih karena ia hanya bisa membawa setangah pot saja selama tugasnya.

Setelah dua tahun, ia merasa gagal. Suatu hari di pinggir sungai, ia berbicara kepada si pembawa air, "Aku merasa malu dengan diriku, retak yang ada padaku telah membuat air tumpah selama perjalanan ke rumah."

Si pembawa air itu berkata, "Apakah kamu tidak menyadari bahwa banyak bunga yang ada di jalanmu, tapi tidak di jalan pot yang satunya?"

Si pembaw air berkata lagi, "Itu karena aku selalu menyadari kerusakanmu, maka aku menanam bibit bunga di sepanjang jalanmu. Setiap hari ketika kita kembali, kamu telah menyiraminya. Selama dua tahun ini aku sudah bisa memetik bunga-bunga yang indah untuk menghiasi meja. Tanap dirimu dengan badan yang retak, tidak ada bunga-bunga yang indah yang menghiasi rumahku.

=====================================
Setiap orang memiliki sisi yang unik yang dapat membuat hidup menjadi lebih menarik dan bermanfaat


Sumber : TUTUR BIJAK DARI NEGERI CINA. Agatha P Ranjabar. 2007




01 Januari 2012

4 Rahasia Mengalahkan Musuh Raksasa Yang Menghadang



“Tetapi Daud berkata kepada orang Filistin itu: “Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu.” 1 Samuel 17:45

Goliat merupakan seorang pendekar dari tentara Filistin dan memiliki postur tubuh yang tinggi besar bagaikan seorang raksasa. Dengan perlengkapan senjata yang lengkap, dia menantang bangsa Israel apakah ada yang berani untuk maju berperang dengan dia satu lawan satu. Seluruh bangsa Israel yang pada waktu itu dipimpin oleh Saul menjadi takut kepada Goliat. Tidak ada satupun orang yang berani maju melawan Goliat.

Lain halnya dengan Daud, pada waktu itu ia masih muda, kemerah-merahan dan elok parasnya. Daud melihat kejadian itu dan mendengar suara Goliat yang menantang bangsanya. Daud tidak takut dan justru memutuskan untuk maju melawan Goliat. Tentunya hal ini mengejutkan semua orang yang mendengarnya. Dengan penuh keyakinan Daud maju berperang melawan Goliat. Apakah yang menjadi rahasia Daud untuk mengalahkan musuh raksasa yang menghadang?

1. Tidak Tawar Hati
“Berkatalah Daud kepada Saul: “Janganlah seseorang menjadi tawar hati karena dia; hambamu ini akan pergi melawan orang Filistin itu.” ” 1 Samuel 17:32

Seluruh bangsa Israel langsung merasakan ketakutan dan menjadi tawar hati karena mereka merasa tidak mungkin dapat mengalahkan Goliat. Tidak ada yang berani maju melawannya karena Goliat mempunyai postur tubuh yang sangat besar dan sudah sangat berpengalaman dalam berperang. Di atas kertas, kekuatan Goliat jauh di atas kekuatan rata-rata prajurit yang ada di bangsa Israel. Dan sudah dapat dipastikan siapapun yang melawan Goliat, pasti akan langsung dihabisi olehnya. Itulah sebabnya bangsa Israel menjadi tawar hati, karena merasa tidak mungkin dapat mengalahkan musuh mereka.

Berbeda dengan Daud yang tidak gentar sedikitpun walau melihat dan mendengar perkataan Goliat. Daud bahkan memberikan semangat kepada bangsa Israel untuk tidak menjadi tawar hati dalam menghadapi Goliat.

Sebesar apapun masalah yang sedang kita hadapi, kita tidak boleh menjadi tawar hati. Kita harus belajar menjadi kuat dan tegar dalam menghadapi persoalan apapun. Bahkan seperti Daud, kita tidak hanya menjadi kuat, tetapi juga memberi kekuatan bagi orang lain.
.
2. Pengalaman Hidup
“Tetapi Daud berkata kepada Saul: “Hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya. Apabila datang singa atau beruang, yang menerkam seekor domba dari kawanannya, maka aku mengejarnya, menghajarnya dan melepaskan domba itu dari mulutnya. Kemudian apabila ia berdiri menyerang aku, maka aku menangkap janggutnya lalu menghajarnya dan membunuhnya. Baik singa maupun beruang telah dihajar oleh hambamu ini. Dan orang Filistin yang tidak bersunat itu, ia akan sama seperti salah satu dari pada binatang itu, karena ia telah mencemooh barisan dari pada Allah yang hidup.”
Pula kata Daud: “TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu.” Kata Saul kepada Daud: “Pergilah! TUHAN menyertai engkau.” ” 1 Samuel 17: 34-37

Daud mempunyai pengalaman tersendiri dalam menggembalakan domba. Begitu banyak binatang buas yang ingin menerkam domba-dombanya. Tetapi Daud sanggup melawan dan mengalahkan binatang-binatang buas tersebut. Mungkin orang-orang menganggap hal itu biasa dan tidak dapat dibandingkan dengan melawan Goliat. Tetapi pengalaman yang dimiliki Daud menjadi bekal bagi Dia untuk menghadapi masalah-masalah baru yang bahkan jauh lebih besar. Dan Daud sangat yakin bahwa Tuhan yang telah menolong dia di masa-masa yang telah lewat, maka Tuhan juga yang akan menolong dia di masa-masa yang akan datang.

Bukankah kita juga telah melalui berbagai macam pencobaan, masalah, persoalan, penyakit dan lain sebagainya? Bukankah Tuhan telah menolong kita sehingga kita dapat melalui semuanya itu dengan tidak kurang suatu apapun? Jika Tuhan telah dan pernah menolong kita di masa-masa yang telah lewat, apakah Tuhan tidak akan menolong kita di masalah yang saat ini kita hadapi? Apakah Tuhan tidak akan menjaga hidup kita? Tuhan pasti tetap akan menolong kita. Dia pasti tidak akan meninggalkan kita. Pengalaman-pengalaman yang telah kita lalui dapat membuat kita semakin yakin bahwa Tuhan tidak akan melupakan kita. Dia sendiri yang akan turun tangan mencurahkan kuasaNya dan menolong kita dalam masalah yang sedang kita hadapi. Kita harus yakin bahwa Tuhan yang telah menolong kita di masa-masa yang telah lewat, Tuhan juga yang akan menolong kita pada saat ini maupun di masa depan.
.
3. Bersandar Pada Allah
“Tetapi Daud berkata kepada orang Filistin itu: “Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu. Hari ini juga TUHAN akan menyerahkan engkau ke dalam tanganku dan aku akan mengalahkan engkau dan memenggal kepalamu dari tubuhmu; hari ini juga aku akan memberikan mayatmu dan mayat tentara orang Filistin kepada burung-burung di udara dan kepada binatang-binatang liar, supaya seluruh bumi tahu, bahwa Israel mempunyai Allah, dan supaya segenap jemaah ini tahu, bahwa TUHAN menyelamatkan bukan dengan pedang dan bukan dengan lembing. Sebab di tangan Tuhanlah pertempuran dan Iapun menyerahkan kamu ke dalam tangan kami.” ” 1 Samuel 17:45-47

Ada dua pola pikir yang berbeda yang dapat kita lihat pada saat pertempuran Daud melawan Goliat. Di satu sisi Goliat sangat mengandalkan kekuatan dan kemampuannya secara fisik untuk berperang dan sangat yakin bahwa siapapun lawannya, dia pasti akan menang. Di sisi lain Daud melihat bahwa kekuatan, kemampuan dan peralatan tempur bukanlah segalanya, tetapi kuasa Tuhanlah yang memegang peranan penting dalam pertempuran yang dihadapinya.

Daud benar-benar mengandalkan Tuhan dalam pertempurannya. Daud benar-benar berharap kepada kuasa Tuhan untuk bekerja di dalam dirinya. Daud bersandar kepada kekuatan Tuhan dalam pertempurannya.
Dalam menghadapi persoalan atau masalah, ada kalanya Tuhan menuntut kita untuk bersandar sepenuhnya kepada Dia. Kepintaran atau kepandaian memang membantu kita dalam mengambil keputusan. Tetapi ada saatnya kita harus meletakkan kekuatan kita dan benar-benar bersandar kepada kuasa Tuhan. 

Dengan bersandar sepenuhnya kepada Tuhan, maka Tuhan yang akan bertempur bagi kita. Dia yang akan berperang bagi kita dan memberi kita kemenangan demi kemenangan.
.
4. Melangkah Dengan Iman
“Lalu Daud memasukkan tangannya dalam kantungnya, diambilnyalah sebuah batu dari dalamnya, diumbannya, maka kenalah dahi orang Filistin itu, sehingga batu itu terbenam ke dalam dahinya, dan terjerumuslah ia dengan mukanya ke tanah. Demikianlah Daud mengalahkan orang Filistin itu dengan umban dan batu; ia mengalahkan orang Filistin itu dan membunuhnya, tanpa pedang di tangan.” 1 Samuel 17:49-50

Daud tidak menggunakan metode yang canggih dan hebat dalam menghadapi Goliat. Daud tidak menggunakan senjata, perisai ataupun tombak. Daud hanya menggunakan batu dan diumbankan ke arah Goliat. Tetapi mujizat justru terjadi saat Daud melakukan hal “kecil” tersebut. Batu yang diumbannya mengenai dahi Goliat hingga terbenam ke dalam kepalanya. Goliatpun terjatuh dan kalah di tangan Daud.
Untuk dapat menang dalam masalah yang sedang kita hadapi, kita hanya perlu berani untuk melakukan langkah yang sederhana. Kita tidak perlu terlalu kuatir dan memikirkan banyak hal yang terlalu rumit. Hanya perlu keberanian saja untuk dapat melangkah.

Jangan tunda-tunda apa yang dapat kita lakukan. Jangan kuatir dan takut untuk melakukan keputusan. Jangan ragu untuk melangkah maju. Satu langkah sederhana dapat membawa kita kepada kemenangan. Haleluya!
.
“Sebab siapakah Allah selain dari TUHAN, dan siapakah gunung batu kecuali Allah kita?
Allah, Dialah yang mengikat pinggangku dengan keperkasaan dan membuat jalanku rata;
yang membuat kakiku seperti kaki rusa dan membuat aku berdiri di bukit;
yang mengajar tanganku berperang, sehingga lenganku dapat melenturkan busur tembaga.” 
Mazmur 18:32-35

Sumber : PelitaHidup.com

23 Februari 2011

MENGASIHI MUSUH


“Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu”
Lukas 6:27


Sebagai anak-anak Allah kita harus memiliki sifat-sifat Allah. Ada pun salah satu sifat Allah adalah Mahapengampun, seperti kata Pemazmur, “Sebab Engkau, ya Tuhan, baik dan suka mengampuni.. .” (Mazmur 86:5), bahkan “Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.” (Yesaya 1:18).

Seperti Yesus, agar Ia layak menjadi Putera Kerajaan Allah, Ia tidak membalas meskipun dicaci-maki, dihujat, diejek, diludahi dan dipermalukan; Ia sanggup mengampuni dan mengasihi musuh-musuhNya. Ia berkata, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (Lukas 23:34). Ia telah meninggalkan teladan hidup yang luar biasa. Menjadi Kristen berarti pengikut Kristus, dan sudah sepatutnya kita mengikuti jejakNya dan meneladani kehidupanNya. Alkitab dengan tegas menyatakan: “Barangsiapa rnengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.” (1 Yohanes 2:6). Tuhan rnenghendaki agar kita mengasihi musuh-musuh kita. Kata-kata Yesus dari atas salib bukan kata-kata kutuk atau keluhan atau tentang penghinaan atas kematianNya yang terkutuk, tetapi adalah doa untuk mereka yang menyalibkan Dia, Putera Allah yang benar, tanpa dosa. Stefanus adalah contoh orang yang mengikuti teladan Yesus. Ketika ia dilempari batu dan hampir menghembuskan nafas terakhir, ia berdoa, “Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!” (Kisah 7:60).

Kalau kita mengasihi dan berbuat baik kepada orang yang mengasihi kita, apakah jasa kita? Yang dikehendakiNya: “Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu.” (Lukas 6:27-28). Banyak orang Kristen meremehkan pengajaranNya ini. Mungkin ada kasih, tapi terhadap kawan sendiri, grup sendiri atau denominasi sendiri. Terhadap saudara seiman yang tak dikenal secara pribadi saja kita sulit mengasihi, bagaimana dengan musuh?

Betapa sedih hati Yesus melihat orang Kristen tak dapat mengikuti teladanNya!

16 Februari 2011

MENGASIHI SESAMA


Matius 22:39 "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri"


Sebuah badan sosial di Amerika Serikat yang bernama Yayasan Carnegie mendapati bahwa agar dapat meraih keberhasilan dalam pekerjaan, maka kemampuan dalam membangun hubungan lebih penting daripada pengetahuan. Penelitian ulang oleh yayasan itu menunjukkan bahwa hanya lima belas persen dari kesuksesan seseorang ditentukan oleh pengetahuan dan ketrampilan teknis tentang pekerjaannya, namun sebesar delapan puluh lima persen lagi ditentukan sikap pribadi dan kemampuan mereka dalam membangun hubungan dengan orang lain.

Alkitab memerintahkan kita untuk "ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu" (Efesus 4:32). Sesungguhnya, Alkitab menyatakan agar kita mengasihi "sesama" kita seperti diri sendiri (Matius 22:39). Dan sesama kita tidak hanya orang yang tinggal atau bekerja di dekat kita, tetapi setiap orang yang kita temui dalam perjalanan hidup kita, terutama mereka yang membutuhkan pertolongan.

Jadi, bersikap sopan, perhatian, dan peduli kepada sesama adalah prinsip rohani yang mendasar. Itu juga merupakan pedoman yang terpenting dalam mendapatkan hubungan yang menyenangkan dan membahagiakan. Sesungguhnya, hal itu pun merupakan kunci emas meraih keberhasilan kerja.

Tujuan kita meneladani semangat Kristus untuk sesama, semata-mata didasari oleh keinginan untuk taat kepada Allah dan bukan hanya keinginan untuk berhasil dalam pekerjaan. Lebih dari itu, tugas utama kita sebagai orang percaya adalah untuk mewujudkan dan mempraktikkan karakter yang mengasihi sesama seperti Tuhan kita.

Bagaimana kita mengasihi sesama? Seperti Tuhan mengasihi kita!

Tuhan mengasihi kita tanpa syarat, seperti itulah kita harus mengasihi sesama. Kasih yang bersyarat bertolak dari kata “kalau” atau “asal”. “Kalau kamu baik pada saya.”, “Asal kamu mengikuti apa maunya saya.” Itu bukan kasih yang Tuhan kehendaki.


Tuhan mengasihi kita tanpa pamrih, seperti itulah kita harus mengasihi sesama. Kasih yang berpamrih meminta balas jasa – balas jasa tidak selalu berupa materi, bisa juga berupa pengakuan atau kebangaan pribadi – Itu kasih yang tidak tulus. Palsu. Bukan kasih yang Tuhan kehendaki.


Tuhan mengasihi kita tanpa menuntut, sesuai apa adanya kita, seperti itulah kita harus mengasihi sesama. Kasih yang menuntut adalah kasih yang egois, berpusat pada diri sendiri.,Selfish. Hanya mau menerima, tetapi tidak mau memberi. Itu bukan kasih yang Tuhan kehendaki.


Mereka yang mengasihi Allah pasti mengasihi sesamanya

10 Februari 2011

MENGASIHI TUHAN


Matius 22:37
Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.



Begitu mudahnya orang Kristen berkata, “Aku mengasihi Engkau Tuhan.” Tampaknya mereka menganggap Tuhan gampang percaya dengan perkataan yang menghiasi bibirnya itu, sebab kita bisa melihat bahwa tak jarang tindakan orang yang menyebut dirinya Kristen tidak menunjukkan bahwa ia benar-benar mengasihi Tuhan. Misalnya, ia masih egois, mengejar harta dan kemuliaan duniawi bagi dirinya sendiri.

Kalau Tuhan menghendaki kita mengasihi Dia dengan segenap kehidupan kita, artinya Tuhan adalah pribadi yang harus paling dicintai, lebih dari segalanya yang lain dalam hidup ini. Ia menghendaki sikap hati yang benar di hadapan-Nya, bukan sekadar ucapan indah di bibir saja.Sikap hati yang benar itu adalah, dari dasar hati kita yang paling dalam harus mengalir pengakuan “Aku mengasihi Tuhan,” yang kemudian tercermin dalam hidup kita, sekalipun kita belum sempurna. Ia layak menerima itu sebab Ia adalah Allah, dan Mempelai Pria bagi kita.

Dalam Perjanjian Lama, Allah Bapa telah memberi isyarat yang jelas tentang hal ini, bahwa Ia adalah objek yang mesti dikasihi di atas segala sesuatu (Ul. 6:5, 5:9–10). Di zaman anugerah ini Tuhan Yesus telah memberi segala sesuatu bagi kita, maka sepantasnyalah kita mengasihi Dia.

Kasih kita kepada Yesus harus diwujudkan secara nyata, bukan saja ucapan mulut tetapi tindakan konkret. Kalau kita memberi segala sesuatu yang ada pada kita bagi Tuhan Yesus tanpa menyisakan apa-apa bagi diri kita sendiri, itulah kehidupan yang indah itu. Oleh sebab itu bertindaklah segera. Adalah suatu kehormatan kalau kita diperkenankan berkasih-kasihan dengan Tuhan.

Mengasihi Tuhan bukanlah sesuatu yang sulit, tetapi juga bukan sesuatu yang sederhana. Memiliki kasih akan Tuhan bukanlah karunia, tetapi sangat tergantung dari kehendak bebas kita sendiri. Kalau kita sungguh-sungguh memburu kehidupan yang mengasihi Tuhan, maka Tuhan pun akan membuka semua peluang, kesempatan dan sarana sehingga kita dapat mengasihi Dia secara benar dan optimal.

Mengasihi Tuhan bukan sesuatu yang statis, melainkan sesuatu yang progesif. Kalau seseorang sungguh-sungguh belajar mengasihi Tuhan dengan segenap hidupnya, maka Ia akan mengajarkan lebih lanjut bagaimana mengasihi-Nya dengan sempurna. Belajarlah mengasihi-Nya, dan niscaya ada proses perubahan ke arah yang lebih positif, sehingga kita pun akan menyadari bahwa kita memang mengasihi Tuhan.

Mengasihi Tuhan berarti menyerahkan segalanya kepada-Nya, tanpa menyisakan apa pun bagi diri kita sendiri.

02 Januari 2011

SESUATU UNTUK DIKATAKAN

Tuhan Allah telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu (Yesaya 50 : 4)


Suatu kali Einstein diminta untuk men-jadi pembicara utama dalam acara makan malam di Swarthmore College. Ketika tiba saatnya untuk berbicara, ia mengejutkan hadirin dengan berdiri dan mengatakan, "Tak ada yang hendak saya sampaikan." Lalu ia duduk kembali.

Beberapa detik kemudian ia berdiri dan menambahkan, "Apabila ada hal yang ingin saya sampaikan, saya akan kembali dan menyampaikannya." Enam bulan ke-mudian ia menulis surat kepada pemimpin perguruan tinggi tersebut, "Kini ada hal yang ingin saya sampaikan." Lalu diadakanlah sebuah acara makan malam dan ia menyampaikan pidatonya.

Anda mungkin pernah mendapat kesempatan untuk "memberi semangat baru" kepada orang yang letih lesu (Yesaya 50:4), tetapi Anda merasa tidak ada yang patut dikatakan. Jika demikian, ikutilah teladan Hamba Tuhan, Mesias yang dijanjikan, yang kisah-Nya telah kita baca dalam Yesaya 50:4-10. Karena Dia mendengar dan menuruti apa yang didengar-Nya, maka Dia punya berita untuk disampaikan kepada orang lain.

Bukalah firman Allah dengan kerinduan untuk mempelajari dan melaksanakan apa yang Dia perintahkan. Bayangkan Allah hadir dan sedang berbicara kepada Anda, mengungkapkan pikiran, perasaan, dan keinginan-Nya. Renungkanlah kata-kata-Nya, sehingga Anda tahu apa yang Dia katakan.

Kemudian, sebagai Hamba yang ditetapkan, pada saatnya Allah akan memberi Anda "lidah seorang murid" (ayat 4). Jika Anda mendengarkan Allah, maka akan ada hal-hal berarti yang dapat dikatakan --David Roper

Sumber : http://www.sabda.org/publikasi/e-rh/

30 Desember 2010

TINJAUAN HIDUP


Mazmur 71 : 1 : 24

Pemazmur yang beranjak tua tampaknya sedang melakukan peninjauan hidup di Mazmur 71 ini.

Ia merenungkan bahwa :
  1. Tuhan selalu menjadi tempat perlindungan dan pengharapannya yang teguh (ayat 1,3,5,7) dan ia percaya kepada Tuhan sejak masa mudanya (ayat 5,6)
  2. Allah telah mendidik, bahkan mengizinkannya mengalami banyak kesulitan untuk kebaikannya (ayat 17,20,21)
  3. Hidupnya telah menjadi “tanda ajaib” bagi banyak orang karena karya Allah di dalam dan melalui dirinya (ayat 7)
  4. Pemazmur memohon penyertaan Tuhan sampai masa tuanya agar ia dapat memberitakan kuasa dan keajaiban Tuhan kepada generasi selanjutnya (ayat 9,18)
Dengan membaca mazmur ini, kita dapat menemukan cara menjalani hidup sebagai orang kristiani :
  1. Curahkan hidup untuk bersekutu dan percaya kepada Tuhan selalu.
  2. Daripada mengeluhkan hal-hal buruk, lebih baik memuji Allah atas kebenaran dan kebaikan-Nya
  3. Tetaplah berdoa, memuji dan berpengharapan. Biarlah puji-pujian terus melekat di bibir dan hati.
  4. Bersandar pada kekuatan-Nya, dan gunakanlah setiap kesempatan untuk menjadi saksi bagi-Nya. Mintalah Allah membuat kita menjadi “tanda ajaib” yang membawa orang lain kepada Kristus.
Kita dapat memakai semua perenungan ini untuk meninjau kehidupan kita sendiri di penghujung tahun ini dan membuat komitmen-komitmen yang sehat dalam memasuki tahun baru.


Sumber : Sentuhan Hati Vol 1 No. 12 Desember 2010

22 Desember 2010

CHRISTMAS : HOLIDAY OR HOLY DAY?



Matthew 1 : 18-25

For centuries, society has been slowly drifting down a broad rover of change, but speed is picking up, and we have now entered the rapids. Even Christmas is not immune to these changes. It has become just ‘holiday’ to the world; and sadly, even to some Christians.

‘Merry Christmas’ has been replaced by ‘Happy Holidays’ and carols about Jesus have been traded for songs celebrating Santa Claus, winter, family and friends. Finding Christ-centered Christmas cards has become a challenge. Snowmen and sleighs have taken the place of manger scenes, which were once common in both private and public settings.

This slide away from Christ is the natural progression of the world, but it is not the direction that believers should go. Drifting is easy: you just relax and follow the path of least resistance. But going againstthe stream requires constant awarenessand diligent effort. We must actively guard against letting the world steal Christ from our celebrations.

Christmas is not just a holiday; it is a holy day: the day God came to earth in the flesh of tiny baby for the purpose of reconciling sinful mankind to Himself. Holidays is numerous, but there is only one Christmas.

The world tries hard to find pleasure in Christ-less holiday observances, but happiness is often elusive when experiences don’t match expectations. If you feel a sense of letdown, you may have drifted away from an authentic celebration of Christmas.

Allow Jesus back in, and joy will return.


Source : Sentuhan Hati Vol 1 No. 12 Desember 2010

01 Desember 2010

JADILAH ANAK-ANAK TERANG


Baca: Efesus 5:1-13

“Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang,” Efesus 5:8

Kehidupan seorang Kristen seharusnya mengalami perubahan secara nyata karena kita tidak lagi berada dalam kegelapan, melainkan memancarkan terang. Kalau kita ini terang, seluruh keberadaan kita adalah terang. Status sebagai “Kristen” bukan seperti sebuah stiker yang ditempel di luar sehingga orang melihat siapa kita melalui keaktifan kita mengikuti kebaktian atau persekutuan-persekutuan, tetapi mulai dari dalam diri kita di mana hakekat hidupnya mengalami perubahan dan menjadi terang; inilah yang dikatakan sebagai pertobatan yang sesungguhnya.

Sumber terang adalah Tuhan. Maka dari itu kita harus menjadi terang sebab kita adalah anak-anak terang. Jika Bapa kita adalah Allah yang terang, maka kita sebagai anak-anakNya juga seharusnya menjadi anak-anak terang. Ini ditegaskan Yohanes dalam suratnya, “Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan. Jika kita katakan, bahwa kita beroleh persekutuan dengan Dia, namun kita hidup di dalam kegelapan, kita berdusta dan kita tidak melakukan kebenaran.” (1 Yohanes 1:5-6). Jadi jika kita adalah anak-anak terang maka seharusnya kita memancarkan terang! Sayangnya banyak orang yang berlabel ‘Kristen’ tetapi hidupnya tidak memancarkan terang bagi sekitarnya, bahkan masih tinggal dalam kegelapan. Firman Tuhan jelas menyatakan, “Kamu adalah garam dunia. Kamu adalah terang dunia.” (Matius 5:13a, 14a). Dua hal inilah yang menjadi cara kekristenan mempengaruhi dunia.

Ketika kita menyalakan alat penerang, kita meletakkannya di tempat yang tinggi supaya sinarnya menerangi semua tempat. Tuhan menghendaki kita ‘memisahkan diri’ dari orang-orang yang ada dalam kegelapan. Bukan berarti kita tidak boleh bergaul dan berteman dengan mereka, tetapi lebih menekankan bahwa kita tidak boleh berkompromi atau bekerja sama dengan perbuatan-perbuatan gelap mereka, “karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran,” (Efesus 5:9). Di tengah dunia yang dipenuhi kenajisan dan hawa nafsu, setiap anak Tuhan dituntut untuk berani tampil beda dan tetap memancarkan sinar kemulianNya.

Sudahkah kita menjadi terang
bagi orang-orang yang ada di sekitar kita?

28 November 2010

LEBIH DARI PAHLAWAN


Ayat bacaan: Amsal 16:32
========================
"Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota."



Pahlawan dimanapun dikenal dengan kegigihan mereka memperjuangkan sesuatu hingga titik darah terakhir. Tidak jarang para pahlawan ini harus gugur di medan perang, mengorbankan segala yang mereka miliki dalam berjuang. Karena itulah nama pahlawan akan selalu harum dikenal sepanjang masa. Coba lihat buku pelajaran adik-adik atau anak-anak kita, ada banyak nama pahlawan di sana dengan rincian perjuangan mereka. Tidak mudah untuk bisa menjadi seorang pahlawan. Semua orang ingin menjadi pahlawan, namun tidak semua orang bisa mencapainya. Tapi jika alkitab mencatat bahwa ada orang yang bisa melebihi kehebatan seorang pahlawan, atau bahkan melebihi orang yang berhasil merebut sebuah kota sekalipun seperti yang kita baca pada ayat bacaan hari ini: "Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota" (Amsal 16:32), itu artinya ada sesuatu yang sangat penting yang harus kita miliki dalam diri kita. Tidak semua orang bisa menjadi pahlawan, tapi semua orang bisa lebih dari pahlawan. Itu kata alkitab. Hal itu tidak lain adalah kesabaran.

Sadarkah anda bahwa kita hidup di jaman yang menuntut segala sesuatu serba cepat? Makanan fast food terus tumbuh subur. Koneksi internet harus berkecepatan tertinggi, mobil harus secanggih mungkin, bermesin besar dan bertenaga besar agar bisa mendorong kendaraan untuk melaju sekencang-kencangnya. Buruh dituntut bekerja secepat-cepatnya dengan upah yang serendah mungkin. Jasa kurir terus berlomba menyediakan layanan paling cepat, sehari sampai ke seluruh pelosok daerah, jika tidak maka mereka akan tertinggal dan dilupakan orang. Orang tidak lagi sabar menghadapi kemacetan dan antrian. Jika dulu dikatakan time is money, sekarang time is a lot more than money. Anda ingin sukses? Cepatlah bertindak. Demikian kata seorang motivator. Semua ini membuat kita terus berlomba untuk semakin cepat. Efek sampingnya, kita terbentuk menjadi orang-orang yang tidak sabaran dalam segala hal, termasuk dalam hal rohani.

Lihatlah ketika kita berdoa meminta sesuatu kepada Tuhan. Kita seringkali tidak sabaran dan terus mendesak Tuhan untuk memenuhi kehendak kita. Jika Yesus mengajarkan "jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.", yang menekankan kepada kehendak Tuhan lebih dari kehendak manusia manapun di bumi ini, kita justru bertindak sebaliknya. Jika Tuhan tidak segera menjawab, kita pun bisa bersungut-sungut bahkan meninggalkan Tuhan dengan segera, lalu pergi menuju alternatif-alternatif sesat yang ditawarkan dunia. Begitu tidak sabarnya manusia, sehingga hidup pun tidak lagi bisa nyaman, karena kita terus saja dikejar-kejar waktu.

Firman Tuhan hari ini mengajarkan sesuatu yang sangat penting. Di mata Tuhan, kesabaran itu memegang peranan yang sangat penting dalam kehidupan iman kita. Begitu penting hingga dikatakan bahwa orang yang sabar itu akan melebihi seorang pahlawan sekalipun. Orang yang mampu menguasai dirinya akan lebih besar dari orang yang mampu merebut sebuah kota sekalipun. Hidup di dunia yang menuntut serba cepat membuat kita sering melupakan firman Tuhan yang menekankan kesabaran terhadap segala sesuatu. Sabar menderita, sabar menghadapi fitnahan, sabar menghadapi segala sesuatu termasuk menunggu datangnya pertolongan Tuhan. Itu semua akan membuat iman kita bisa terus bertumbuh.

Yakobus berbicara panjang lebar mengenai kesabaran ini. "Karena itu, saudara-saudara, bersabarlah sampai kepada kedatangan Tuhan! Sesungguhnya petani menantikan hasil yang berharga dari tanahnya dan ia sabar sampai telah turun hujan musim gugur dan hujan musim semi." (Yakobus 5:7). Perhatikan, bukankah petani juga tidak langsung menuai hasil setelah lelah menanami lahannya? Jika petani saja harus menunggu hingga apa yang mereka tanam bisa menghasilkan sesuatu, maka kita pun hendaklah demikian. "Kamu juga harus bersabar dan harus meneguhkan hatimu, karena kedatangan Tuhan sudah dekat!" (ay 8). Apa yang harus kita lakukan bukanlah bersungut-sungut atau saling mempersalahkan. (ay 9). Dan Yakobus pun mengingatkan kita untuk meneladani "penderitaan dan kesabaran para nabi yang telah berbicara demi nama Tuhan." (ay 10). Hidup mereka tidaklah mudah. Namun mereka semua menghadapi segalanya dengan kesabaran yang berakar pada keyakinan penuh akan Tuhan yang setia. Yakobus bahkan mengambil contoh Ayub, yang mendapat penderitaan begitu berat, namun pada akhirnya kita tahu apa yang terjadi. "Sesungguhnya kami menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun; kamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya, karena Tuhan maha penyayang dan penuh belas kasihan." (ay 11).

Sebutlah nama para orang pilihan Tuhan, maka kita akan bisa belajar dari kesabaran mereka. Abraham, Nuh, Musa, Yusuf, Daniel dan sebagainya hingga para rasul di Perjanjian Baru, mereka semua telah membuktikan bahwa iman yang teguh adalah iman yang selalu didasari dengan kesabaran. Memang sulit untuk bisa melatih diri agar mampu bersabar, namun sesulit apapun itu, kita bisa melakukannya. Tuhan tahu apa yang terbaik bagi kita, jauh lebih tahu dari apa yang kita anggap terbaik bagi diri kita sendiri. Karena itulah kita seharusnya menyerahkan segala sesuatunya ke dalam tangan Tuhan, biarlah kehendakNya yang terjadi dan bukan kehendak kita, dan untuk itu dibutuhkan kesabaran. "Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar." (Yesaya 59:1) Apa yang harus kita lakukan adalah melatih diri kita untuk bersabar dan terus berjalan dengan iman. Pada saat yang tepat dan terbaik, tangan Tuhan akan terulur untuk melepaskan kita dari masalah apapun. "Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir" (Ibrani 6:19). Dengan demikian jalanilah hidup dengan pengharapan penuh. Meski jawaban tidak anda dapatkan hari ini, bersabarlah dan terus pegang janji Tuhan. Sebuah kesabaran akan membuat kita menjadi orang benar yang lebih berharga dari seorang pahlawan di mata Tuhan, karena dalam kesabaran terkandung keyakinan yang didasarkan pada iman. Jalankan apa yang bisa kita lakukan, lakukan sebaik-baiknya, dan lakukan dengan kesabaran. Pada saatnya nanti, kita akan bersukacita karena kesabaran ternyata mampu membawa kita menuai segala janji Tuhan.

Orang sabar melebihi seorang pahlawan


SUMBER : http://renungan-harian-online.blogspot.com/2010/03/lebih-dari-pahlawan.html

26 November 2010

KAISAR DAN BENIH


Ini adalah salah satu kisah inspirasional tentang integritas (kejujuran)

Pernah ada seorang kaisar di Timur Jauh yang sudah tua dan tahu sudah datang waktunya untuk memilih penggantinya. Ia tidak memilih dari salah seorang asistennya atau salah satu dari anak-anaknya sendiri, tetapi ia memutuskan untuk melakukan sesuatu dengan cara yang berbeda.


Ia memanggil semua pemuda di dalam kerajaan bersama-sama dalam satu hari. Dia berkata, "Ini telah datang waktunya bagi saya untuk turun dan memilih kaisar berikutnya. Saya telah memutuskan untuk memilih salah satu dari kalian." Anak-anak terkejut! Tetapi, sang kaisar melanjutkan. "Aku akan memberikan masing-masing dari kalian sebuah biji hari ini. Satu benih. Ini adalah benih yang sangat istimewa. Aku ingin kau pulang, menanam benih, disiram dan kembali ke sini satu tahun dari hari ini dengan apa yang Anda telah tumbuhkan dari satu biji ini. Aku akan menilai tanaman yang Anda berikan untuk saya, dan yang terbaik saya pilih dan akan menjadi kaisar kerajaan berikutnya! "

Ada seorang anak laki-laki yang bernama Ling berada di sana pada hari itu dan ia, seperti yang lain, menerima benih. Ia pulang ke rumah dan kepada ibunya dengan penuh semangat menceritakan keseluruhan cerita. Dia membantunya mendapatkan panci dan tanah penyemaian, lalu ia menanam benih dan menyiramny dengan hati-hati. Setiap hari ia menyirami itu dan memeriksa untuk melihat apakah telah tumbuh.

Setelah sekitar tiga minggu, beberapa pemuda lainnya mulai berbicara tentang bibit dan tanaman yang sudah mulai tumbuh. Ling terus pulang dan memeriksa benihnya, tapi tidak pernah tumbuh. Tiga minggu, empat minggu, lima minggu berlalu. Masih belum apa-apa.

Setiap saat orang lain selalu membicarakan tanaman mereka, namun Ling tidak punya tanaman, dan ia merasa gagal. Enam bulan berlalu, masiyang ada hanya pot. Dia hanya tahu bahwa ia telah membunuh benih. Orang lain pohon-pohon dan tanamannya tinggi, tapi dia punya apa-apa. Ling tidak berkata apa-apa kepada teman-temannya, namun. Dia hanya terus menunggu benih untuk tumbuh.
Setahun akhirnya berlalu dan semua pemuda dari kerajaan membawa tanaman mereka kepada kaisar untuk diperiksa. Ling mengatakan pada ibunya bahwa ia tidak akan membawa pot kosong. Tapi dia mendorongnya untuk pergi, dan untuk membawa poti, dan harus jujur tentang apa yang terjadi. Ling merasa malu, tapi ia tahu ibunya benar. Ia membawa potnya yang kosong ke istana.

Ketika Ling tiba, ia kagum melihat berbagai jenis tanaman tumbuh milik sluruh pemuda lain. Semua tanaman indah, dalam segala bentuk dan ukuran. Ling menaruh potnya yang kosong di lantai dan banyak pemuda lain menertawakannya. Beberapa pemuda menyindir kepadanya dan berkata, "Hei coba lihat ,bagus."

Ketika kaisar tiba, ia mengamati ruangan dan menyapa orang-orang muda. Ling hanya mencoba untuk bersembunyi di belakang. "Wah, tanamannya sudah besar, pohon-pohon dan bunga Anda telah tumbuh," kata sang kaisar. "Hari ini, salah satu dari kalian akan ditunjuk kaisar berikutnya!"

Tiba-tiba, sang kaisar melihat Ling di belakang ruangan dengan potnya yang kosong. Ia memerintahkan para penjaga untuk membawanya ke depan. Ling ketakutan. "Kaisar tahu aku gagal! Mungkin dia akan membunuhku!"

Ketika Ling sampai di depan, Kaisar menanyakan namanya. "Nama saya Ling," jawabnya. Semua anak-anak tertawa dan mengolok-oloknya. Kaisar meminta semua orang tenang. Ia menatap Ling, dan kemudian mengumumkan kepada orang banyak, "Lihatlah kaisar baru Anda! Namanya adalah Ling!" Ling tak mempercayainya. Ling tidak bisa menumbuhkan benihnya. Bagaimana ia bisa menjadi kaisar baru?

Kemudian kaisar berkata, "Satu tahun yang lalu dari hari ini, aku memberi semua orang di sini sebuah benih. Aku bilang Anda untuk mengambil benih, tanaman itu, menyirami, dan membawanya kembali kepadaku hari ini. Tapi aku memberi kalian semua benih yang telah direbus dan tidak akan tumbuh. Kalian semua, kecuali Ling, telah membawa saya tanaman dan pohon-pohon dan bunga. Bila Anda menemukan bahwa benih tidak akan tumbuh, Anda menggantinya dengan benih lain yang kuberikan padamu. Ling adalah satu-satunya dengan keberanian dan kejujuran untuk membawakan pot dengan benih yang saya berikan. Oleh karena itu, ia adalah orang yang akan menjadi kaisar baru! "

============================================
Sumber artikel, dari buku:
Sudarmono, Dr.(2010). Mutiara Kalbu Sebening Embun Pagi, 1001 Kisah Sumber Inspirasi, Idea Press, Yogyakarta. Hal. 159-161. ISBN 978-6028-686-402.

15 Februari 2010

The Power Of Now

Mau rintis usaha, mau jadi yang terbaik, ada target utama, cita-cita setinggi langit.... Semua yang baik, semua yang indah, semua yang menyenangkan, teruslah berpikir positif. Is that it? Hanya sampai disitu saja? Mengapa orang dengan cita-cita besar tidak maju-maju? Mengapa langkah mereka tersendat? Apa yang membuat mereka gagal? Mereka terus berpikir positif, terus  memotivasi diri mereka tapi mereka tidak kemana-mana...

Ini dia masalahnya:

1. Terlalu lama berpikir tanpa langkah nyata tidak akan membawa Anda kemanapun. Semua ada resiko, cepatlah memutuskan, setiap keputusan pasti ada konsekuensi, dan konsekuensi harus Anda terima. Jalani semua tanpa penyesalan!

2. Harus Anda sadari keberadaan Anda di bumi ini hanya sementara, terlalu banyak rencana baik yang tidak tercapai hanya karena Anda tidak menetapkan timeline dalam rencana Anda. Anda terus menunda, sementara waktu terus berjalan. Beberapa terus berdalih: "Belum waktunya, harus bersabar, terus tanya Tuhan.

3. Malas dan suka menunda adalah penyakit yang sangat konyol. Perubahan tidak datang dengan otomatis, harus diusahakan! Silahkan menunda, 5 tahun dari sekarang Anda akan masih tetap sama dengan saat ini.

4. Anda perlu orang-orang yang tepat untuk maju. Kadang kita tidak bisa maksimal di lingkungan yang tidak bisa membuat kita menjadi maksimal. Terlalu lama berendam di kolam yang kecil membuat kita jadi lembek dan terus merasa puas karena menjadi yang cukup diperhitungan di kolam kecil itu. Anda harus keluar dan melihat keluar, lihat dan tataplah lautan luas! Masih banyak ikan yang lebih besar dari Anda. Rasa puas yang Anda miliki adalah kepuasan semu!

5. Jauhi dan buang hambatan. Ada banyak hambatan untuk maju, seperti orang-orang yang tidak tepat, kesenangan sesaat, kegiatan yang tidak berguna, semua hal yang mengganggu konsentrasi, semua hal yang mengganggu fokus dalam berpikir. Lebih baik dihilangkan, karena what lies ahead is bigger than you ever expected when you have a strong will!

6. Tidak suka belajar Anda akan tetap menjadi orang yang ‘cuma segitu'. Overestimating yourself surely ruins you. Underestimating yourself won't unleash the real you! Maka doronglah diri Anda sampai ke titik maksimal Anda, maka Anda akan tahu sampai dimana dan apa yang mampu Anda lakukan. Karena sesuatu yang besar didapat dari kesengsaraan, dari dalam apilah keluar sesuatu yang murni dan berharga. If better is possible, it means you haven't done your best! Jika lebih baik itu mungkin, maka Anda belum melakukan yang terbaikl!

7. Teori selalu berbeda dengan realita, jangan kaget saat Anda menemukan banyak perbedaan. Jangan pernah berpikir semua orang itu baik, bahkan banyak sekali orang yang pasang topeng senyum sementara memegang belati di balik  baju mereka. Demikian juga dengan prosedur kehidupan, orang lebih suka dengan para manusia yang suka dan pandai berbicara, serta penjilat dibandingkan orang yang benar-benar memiliki kemampuan. Karena kata-kata manis lebih didengar ketimbang kenyataan. Orang-orang suka dibohongi ketimbang mendengar kenyataan.

Apa yang Anda inginkan? Apa yang ingin Anda capai? Apapun itu, Anda akan terus berkata: "the best is yet to come." Anda berkata seperti itu karena "the best is never come in your life". Berharap hari esok lebih baik dari hari ini, well that's good. But I tell you, hari esok tidak akan menjadi lebih baik dari hari ini bila Anda tidak mengambil tindakan nyata saat ini untuk berubah dan mencapai apa yang Anda impikan. If you want it now, then you must do it now. Change now, or never there..... Jiika Anda menginginkannya sekarang, maka Anda harus melakukannya sekarang. Berubah sekarang atau Anda tidak akan pernah sampai di sana... Progress harus kelihatan dan realistis. Kalau tidak ada progress yang kelihatan, artinya Anda TIDAK kemana-mana! Rencana yang baik, tidak akan pernah menjadi kenyataan tanpa tindakan nyata. The Power of NOW! Now or NEVER! God bless....


Sumber: Cahyadi Tanujaya
http://jawaban.com/news/spiritual/detail.php?id_news=100212181910

19 Januari 2010

Lubang Paku Di Pagar

Ada seorang anak laki-laki yang memiliki temperamen yang sangat buruk, dia seorang pemarah. Suatu saat ayahn

ya ingin mengajarkan sebuah pelajaran kepadanya, jadi dia memberikan sekantong paku kepada anaknya dan mengatakan setiap kali dia tidak bisa mengendalikan amarahnya, dia harus memakukan sebuah paku di pagar kayu rumah mereka.

Di hari pertama pelajaran itu, anak laki-laki itu menancapkan 37 paku di pagar karena dia sangat marah. Melewati pelajaran itu selama beberapa minggu, akhirnya anak itu mulai dapat mengontrol emosinya, sehingga jumlah paku yang dipalukan ke pagar semakin berkurang.

Tidak lama setelah itu, anak itu menyadari bahwa lebih mudah untuk mengendalikaan emosinya daripada harus menancapkan paku ke pagar. Sampai suatu saat dia tidak lagi pemarah, dia sangat bangga dengan dirinya sendiri dan ingin segera memberitahu ayahnya. Senang dengan pencapaiannya, ayahnya menyuruhnya untuk mencabut kembali paku-paku yang ada dipagar yang ditancapkan pada saat dia marah.

Beberapa minggu kemudian, ketika  dia memberitahu ayahnya bahwa semua paku sudah berhasil dicabutnya. Dengan lembut, sang ayah menuntun anaknya menuju pagar rumah mereka. Sambil tersenyum ayahnya berkata,"Kamu sudah mengerjakan dengan baik, anakku. Tetapi coba lihat ada banyak sekali lubang di pagar ini. Pagar ini tidak akan terlihat sama lagi."

Anak itu memperhatikan ketika ayahnya melanjutkan kata-katanya," Ketika kamu mengatakan sesuatu dalam kemarahan, kata-kata itu akan meninggalkan bekas yang permanent. Tidak peduli berapa kali kamu berkata maaf, lubang itu akan tetap di sana."

Hendaknya kita bijaksana dengan kata-kata kita karena kata-kata kita bisa melukai orang lain.

"Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah." (Yakobus  1:19-20).


sumber: http://jawaban.com/news/spiritual/detail.php?id_news=100119183744



13 Desember 2009

BELAJAR DARI SEMUT

Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak.










21 Juli 2009

"RA NGGO SUWI" (GAK PAKE LAMA)

Bacaan : Mazmur 1 : 1 – 6

Jika kita mendengarkan dan memperhatikan lirik lagu-lagu yang sedang hits saat ini (Wali - Cari Jodoh, Saykoji – Online, Oppie Andaresta – Single Happy, T2 – Malu2 donk, dll), apa yang menarik dari lagu-lagu tersebut?

Kebanyakan lagu-lagu tersebut melukiskan tentang kekecewaan, keputusasaan dan pengharapan-pengharapan. Di satu sisi, lagu-lagu tersebut menjadi wadah aspirasi dan wujud dari perasaan-perasaan yang mereka alami. Dan secara tidak sengaja, pencipta serta penyanyinya juga berasal dari kaum muda sendiri. Bisa dibayangkan, bukan hanya beberapa orang saja yang mengalami perasaan-perasaan tersebut, sebab sudah dapat dipastikan bahwa banyak penikmat musik itu yang lama-kelamaan juga akan larut dalam “emosi” yang terkandung di dalamnya. dengan kata lain, hampir kebanyakan kaum muda pernah mengalami kekecewaan, putus asa tak berpengharapan, dll.

Tak dapat dipungkiri bahwa masa remaja adalah masa dimana seorang anak mulai memasuki masa menuju kedewasaan. Anak muda biasanya identik dengan banyak pengalaman, kekanak-kanakan, labil, egois, belum dapat mengambil keputusan dengan baik serta bersikap dewasa. Bahkan ketika para orang tua sedang berbincang-bincang, mereka dibilang “ga usah ikut-ikut, ini urusan orang dewasa”. Dari situ banyak muncul pergolakan hidup yang membuatnya semakin bertumbuh dan salah satunya adalah kekecewaan ini. kecewa pada teman, sahabat, kekasih, guru, ortu bahkan kepada Tuhan.

Bagaimanapun juga, kekecewaan adalah sebuah proses belajar untuk kita dapat lebih sadar dan rendah hati. Sebab tidak semuanya dapat berjalan sesuai keinginan kita. Maka kita haruslah membiarkan kehendak Tuhan terjadi dalam kehidupan kita.

Selain pandangan-pandangan tersebut, ternyata ada sisi positif anak muda yang banyak dicontoh oleh para orang tua. Jika teman-teman tau lagu dari Rhoma Irama…darah muda ,darahnya para remaja. Lagu ini menggambarkan tentang sifat anak muda yang pantang menyerah, penuh semangat, berapi-api, dll.

Hidup kaum muda diibaratkan dengan hidup yang penuh perjuangan. Apa yang diinginkan pasti harus didapatkan. Namun terkadang semangat tersebut disertai dengan ketidakasabaran, dan akhirnya mencari jalan pintas untuk mencapai itu semua. Maunya sebagai anak muda, menjalani hidup dengan nyaman, mudah dan praktis. Kalo bisa langsung mendapat tanpa banyak kerja keras ”instan” dan ra nggo suwi…

Dalam kehidupan anak muda, perjuangan adalah suatu yang diperlukan untuk menjalani hidup ini. Jika kita tidak diberi hambatan kita tidak akan bisa keluar dari jalan yang ada dengan sukacita.

Kita akan lumpuh dan tidak bisa “TERBANG” jika kita terus-terusan berada dalam kebahagiaan saja/ zona aman. kita akan selalu menjadi bayi yang makan bubur saja jika dalam pertumbuhan tidak diajari makan nasi (yang lebih keras dari bubur) ( bandingkan 1 kor 3: 2 dan Ibrani 5: 12 – 14)

Mungkin kita sangat nyaman dengan hal tersebut. tanpa hambatan dan langsung jadi. resikonya, kita menjadi tidak kuat dan mudah terombang-ambing dalam kehidupan duniawi. Sebagai anak muda tentu kita punya banyak kelemahan, kekurangan. Namun, biarlah dengan kelemahan kita, kuasa Tuhan semakin nyata di sekitar kita dan kita dapat merasakan kuasa Tuhan dalam hidup kita.

Dalam setiap perjuangan kita menghadi hambatan2, kita selalu diberikan harapan.Disaat kita hampir putus asa, ingat bahwa ada pengharapan. kita berserah pda Tuhan dan bukan menyerah pada keadaan.

Sebagai anak muda, kita harus bersikap dewasa dalam menghadapi permasalahan hidup dengan bersabar dalam penantian dan perjuangan. Maz. 1: 3 “ Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.” Kita sebagai anak muda haruslah menjadi pohon yang kuat, yang selalu bertumbuh, berkembang dan menghasilkan buah. Menikmati setiap proses yang Allah ijinkan terjadi di setiap hidup kita. Karena kita tahu bahwa Allah senantiasa menolong di setiap langkah kita.

Dengan yakin bahwa Allah terus bersama kita, kita harus tetap tegar menghadapi persoalan-persoalan yang terjadi di sekitar kita. Berserah pada Tuhan dan yakin akan kuasa Tuhan. meskipun kita masih muda, kita tunjukkan bahwa Allah dapat menyatakan kuasanya dalam diri kita. Kita belajar untuk mengenal rencana Tuhan. mungkin kita belum bisa mengerti. namun suatu saat kita bisa.

Renungan:
"maukah kita menyerahkan proses hidup kita kepada Allah? Atau kita hanya mau budaya instan, ra nggo suwi.... ?"

by : Chrisma Okta Wulandari, dibawakan pada waktu Kamisan tgl 2 Juli 2009

08 Juli 2009

TEMPAYAN YANG RETAK

Seorang tukang air di India memiliki dua tempayan besar; masing-masing bergantung pada kedua ujung sebuah pikulan, yang dibawanya menyilang pada bahunya. Satu dari tempayan itu retak, sedangkan tempayan yang satunya lagi tidak. Jika tempayan yang tidak retak itu selalu dapat membawa air penuh setelah perjalanan panjang dari mata air ke rumah majikannya, tempayan retak itu hanya dapat membawa air setengah penuh.

Selama dua tahun, hal ini terjadi setiap hari. Si tukang air hanya dapat membawa satu setengah tempayan air ke rumah majikannya. Tentu saja si tempayan yang tidak retak merasa bangga akan prestasinya, karena dapat menunaikan tugasnya dengan sempurna. Namun si tempayan retak yang malang itu merasa malu sekali akan ketidaksempurnaannya dan merasa sedih sebab ia hanya dapat memberikan setengah dari porsi yang seharusnya dapat diberikannya.

Setelah dua tahun tertekan oleh kegagalan pahit ini, tempayan retak itu berkata kepada si tukang air, "Saya sungguh malu pada diri saya sendiri, dan saya ingin mohon maaf kepadamu." "Kenapa?" tanya si tukang air. "Kenapa kamu merasa malu?" "Saya hanya mampu, selama dua tahun ini, membawa setengah porsi air dari yang seharusnya dapat saya bawa karena adanya retakan pada sisi saya telah membuat air yang saya bawa bocor sepanjang jalan menuju rumah majikan kita. Karena cacatku itu, saya telah membuatmu rugi," kata tempayan itu.

Si tukang air merasa kasihan pada si tempayan retak, dan dalam belas kasihannya, ia berkata, "Jika kita kembali ke rumah majikan besok, aku ingin kamu memperhatikan bunga-bunga indah di sepanjang jalan." Benar, ketika mereka naik ke bukit, si tempayan retak memperhatikan dan baru menyadari bahwa ada bunga-bunga indah di sepanjang sisi jalan, dan itu membuatnya sedikit terhibur. Namun pada akhir perjalanan, ia kembali sedih karena separuh air yang dibawanya telah bocor, dan kembali tempayan retak itu meminta maaf pada si tukang air atas kegagalannya.

Si tukang air berkata kepada tempayan itu, "Apakah kamu memperhatikan adanya bunga-bunga di sepanjang jalan di sisimu tapi tidak ada bunga di sepanjang jalan di sisi tempayan yang lain yang tidak retak itu? Itu karena aku selalu menyadari akan cacatmu dan aku memanfaatkannya. Aku telah menanam benih-benih bunga di sepanjang jalan di sisimu, dan setiap hari jika kita berjalan pulang dari mata air, kamu mengairi benih-benih itu. Selama dua tahun ini aku telah dapat memetik bunga-bunga indah itu untuk menghias meja majikan kita. Tanpa kamu sebagaimana kamu ada, majikan kita tak akan dapat menghias rumahnya seindah sekarang."

Setiap dari kita memiliki cacat dan kekurangan kita sendiri. Kita semua adalah tempayan retak. Namun jika kita mau, Tuhan Yesus akan menggunakan kekurangan kita untuk menghias meja Bapa-Nya. Di mata Tuhan yang bijaksana, tak ada yang terbuang percuma. Jangan takut akan kekuranganmu. Kenalilah kelemahanmu dan kamu pun dapat menjadi sarana keindahan Tuhan. Ketahuilah, di dalam kelemahan kita, kita menemukan kekuatan kita.

© Copyright 1999 Gejos Present - Natasina Inc. All Rights Reserved.

01 Juli 2009

STOP MENGELUH

Bacaan : Bilangan 11:1-3

Dalam sebuah khotbahnya pada bulan Juli 2006, Pdt. Will Bowen dari Gereja One Community Spiritual Center, Kansas City, Amerika, menyerukan gerakan berhenti mengeluh. Ia lantas membagikan gelang karet berwarna ungu kepada setiap anggota jemaatnya. Aturan mainnya sederhana, gelang itu harus dipakai terus-menerus selama 21 hari di salah satu pergelangan tangan, bisa kanan atau kiri. Dan selama itu tidak boleh mengeluh. Jika hal tersebut dilanggar, maka gelang itu harus dipindahkan ke pergelangan tangan yang lain dan jumlah hari dihitung kembali lagi dari awal. Saat ini, gelang karet itu telah tersebar sebanyak enam juta buah di seluruh dunia. Banyak orang telah merasakan perubahan positif karena menjalankan program berhenti mengeluh ini, khususnya dalam berelasi dan bekerja sama dengan orang lain. 

Rupanya manusia memang cenderung lebih mudah mengeluh atau bersungut-sungut daripada bersyukur; lebih mudah melihat hal-hal yang kurang daripada hal-hal baik dalam hidupnya. Seperti sikap umat Israel. Kasih dan pemeliharaan Tuhan kepada mereka selama berada di padang gurun begitu jelas—mulai dari mengirimkan tiang awan dan tiang api untuk menuntun mereka, sampai mengirimkan burung puyuh dan manna untuk makanan mereka—tetapi tetap saja mereka suka mengeluh. 

Sikap suka mengeluh ini tidak ada gunanya. Dan Tuhan juga tidak senang. Karenanya harus dilawan; jangan dituruti, apalagi dijadikan kebiasaan. Caranya, fokuskan pikiran pada hal-hal yang baik dalam hidup ini, dan berusahalah untuk selalu berkata positif.
MENGELUH DAN BERSYUKUR ITU SOAL PILIHAN PILIHLAH UNTUK SELALU BERSYUKUR 

Penulis: Ayub Yahya

Diambil dari : Renungan Harian Rabu, 1 Juli 2009

01 Juni 2009

MENGHADAPI MASALAH

Yesaya 21:11-12:
Ucapan ilahi terhadap Duma. Ada seorang berseru kepadaku dari Seir: "Hai pengawal, masih lama malam ini? Hai pengawal, masih lama malam ini?" Pengawal itu berkata: "Pagi akan datang, tetapi malam juga. Jika kamu mau bertanya, datanglah bertanya sekali lagi!"


Ketika menikmati ayat ini, saya merenungkan betapa berat masalah hidup yang harus dihadapi manusia (termasuk kita kan..?). Begitu kompleksnya masalah dan ruwetnya situasi yang kita hadapi, membuat kita kadang harus mengakui bahwa kita bukanlah manusia hebat yang sanggup mengatasi semua permasalahan hidup. We all are fragile.

Tanpa kita sadari, kita sering menjadi orang yang mengeluh seperti ayat di atas: kapan derita ini akan berakhir..? kapan ketidakadilan ini akan menyingkir dariku..? Seperti keluh kesah Daud dalam Mazmur 13: Berapa lama lagi, TUHAN, Kaulupakan aku terus-menerus? Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku? Berapa lama lagi aku harus menaruh kekuatiran dalam diriku, dan bersedih hati sepanjang hari? Berapa lama lagi musuhku meninggikan diri atasku? 

Rekan-rekan yang terkasih, masalah dan beban hidup tidak akan pernah berakhir. Pagi akan datang, tetapi malam juga. Kalah dan menyerah terhadap masalah kita hanya akan membuat situasi tambah semakin sulit. Sikap hati dan ketenangan sangat kita diperlukan dalam menghadapi situasi sulit yang seakan tidak ada habisnya ini. Seperti dalam Mazmur 16:1, Jagalah aku, ya Allah, sebab pada-Mu aku berlindung (jika bukan karena Engkau, mungkin aku sudah habis sekarang ini ya Tuhan.. :inspirasi pribadi). Amin.

Mas Ari


13 Mei 2009

PEMBERIAN ALLAH

Kita tidak menerima roh dunia, tetapi roh yang berasal dari Allah, supaya kita tahu, apa yang dikaruniakan Allah kepada kita. 
1 Korintus 2:12

Meyakini ayat ini memberi kekuatan ya... Dan saya pikir memang tidak ada alasan untuk tidak meyakininya. Ketika saya renungkan ayat ini, saya menjadi trenyuh, karena apa yang kita terima itu bukan sesuatu yang berasal dari dunia (kekayaan, kepintaran, popularitas, nama baik, jabatan / kekuasaan, dll.) Tetapi yang berasal dari Allah (keselamatan, hikmat, kekuatan, perlindungan, karunia roh, karakter, kapasitas untuk melayani, dst).

Luar biasa jika boleh dibandingkan, bahwa apa yang kita terima adalah hal yang mempunyai nilai kekal, tidak akan hilang, dan terus tajam tiap waktunya (jika kita berketetapan menajamkannya).

Hal yang lebih gila lagi adalah bahwa melalui pemberian Allah ini, kita dapat mengetahui, mengenali dan menggunakan apa yang Allah karuniakan kepada kita.

Jadi, apakah kita tahu bahwa Allah telah memberikan pemerlengkapan kepada kita? Atau kita hanya tahu sedikit dari buanyaknya yang Allah karuniakan kepada kita? Bergaulah akrab dengan Allah, dan Anda akan menemukannya, satu demi satu.

Mas Ari

10 Mei 2009

DOA (bagian 1)

(bahan renungan Kamisan tgl. 23 April 2009)

by : Mas Ari

Pengantar 

Kali ini kita akan belajar mengenai berdoa. Musah-mudahan pelajaran ini akan menarik kita semua mengingat hal doa sudah kita kenal sejak kita kecil sih!

Tapi, walaupun sudah kita kenal sejak kecil tidak jarang waktu kita semua sudah besar sekarang kalau diminta tolong untuk berdoa sering kali menolak atau merasa nggak bisa, bahkan ada yg merasa takut dan segan.

Sekali lagi semoga pelajaran doa ini sungguh akan menjadi berkat kamu2 yg ada di sini, agar suatu saat ketika kalian diminta untuk berdoa memiliki sikap yg positif karena kalian memiliki kesempatan untuk berbicara kepada Allah pencipta, penguasa di depan teman2. Kita sungguh perlu merasa bangga untuk berbicara, memuji Dia, bukan malu, katena Allah kita sangat hebat!

Tentu saja semua itu butuh latihan dan untuk itu kita semua perlu terus bertumbuh belajar mengenal siapa Dia itu. Siapa sih Allah kita, bagaimana sifat2Nya, supaya kita bisa memuji Dia, seberapa besarnya sih KuasaNya itu supaya kita bisa menyembah Dia dan sekuat apa sih KuasaNya supaya kita bisa mempercayainya? dan seterusnya...

Sehubungan dengan itu semua, setiap anak2 perlu memiliki catatan pribadi tentang doa dan mungkin saja di antara kalian sudah punya tapi rasanya kalau nanti akan dibagikan kertas doa di mana di situ ada beberapa ide untuk mengembangkan kehidupan doa itu, maka itu dapat menyempurnakan catatan yg kalian mungkin sudah punya sebelumnya.

Tetapi sebelum masuk ke dalam pelajaran pokok hal doa, sebelumnya saya ingin sekali mengajukan beberapa pertanyaan yg kalian bisa dengan bebas memberi jawab sesuai dengan pendapat kalian.

1. Menurut kamu2 apa artinya doa?

2. Apakah doa itu penting? Mengapa dan beri alasanmu!

3. Beberapa ayat tentang Allah, sifat, perbuatanNya yg dapat menolong kamu2 untuk memuji Dia. Misalnya : Mzm 25 :3, Mzm 62 : 12, Mzm 106 : 1, Mzm 108 : 5, Mzm 111 : 2, Ams 4 : 11...

Pujian melalui doa dapat kamu ucapkan dengan mengutip ayat2 tersebut, juga dengan menambah sendiri ayat2 yg lain yg menjelaskan tentang sifatNya atau perbuatanNya.

Baik juga kalau kamu dapat menggunakan kata2mu sendiri, berdasarkan pengertian yg kamu peroleh dari ayat2 tersebut atau pengalaman2 pribadi dengan Dia yg sungguh menolong kamu untuk memuji Dia.

Ketika kita melihat akan sifat dan perbuatan2Nya yg ajaib, besar dan penuh kasih, maka itu akan menolong kita dalam memuji Dia. Kalau kita rajin dalam merenungkan akan firmanNya khususnya dengan melihat siapa Dia sebenarnya maka itu akan sangat membantu kita dalam menaikkan pujian, penyembahan, permohonan dan ucapan syukur kepadaNya.

Kali ini kita memang hanya akan belajar memuji Dia. Dan memang doa yg baik adalah kalau kita selalu memulai dengan pujian kepadaNya bukan dengan permintaan2 kita. Seperti hal yg cukup sering terjadi di antar remaja adalah memuji temannya dengan mengatakan dia itu keren lho, dakep, bagus, kaya, pinter, jago deh, hebat, dls.

Biasanya kalau kita memuji gitu pasti bagi orang tersebut sesuatu yg menyengkan dia bukan?

Nah, dalam kehidupan rihani kita ini kalau kita rajin memuji Alla karena sesungguhnya pujian itu adalah hak Allah, maka itu pasti menyenangkan hati Allah tapi juga menyehatkan kehidupan rohani kita. Hubungan pribadi kita dengan Allah pencipta kita akan terasa lebih dalam, hangat dan menyegarkan.

Kita perlu melatih diri kita dalam hal itu, dan Roh Kudus pasti akan menolong kita untuk mengungkapkan hal itu. (bersambung)