Tampilkan postingan dengan label Dari Meja Ketua Pemuda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dari Meja Ketua Pemuda. Tampilkan semua postingan

02 Mei 2009

KETIKA ALLAH MENGUTUS . . .

Pekerjaan pemberitaan Injil adalah sebuah tanggung jawab yang agung, karena berhubungan langsung dengan Yang Agung. Ini adalah tanggung jawab istimewa setiap orang percaya dan panggilan utama mereka. Keistimewaannya terletak pada bagaimana Allah dengan segala kebesaran, kuasa, kapasitas dan keluarbiasaanNya itu, justru bermitra dengan “debu” untuk menyelesaikan proyek agungNya. Satu hal yang saya tangkap dari jalan yang Ia tempuh ini adalah, besarnya kerinduan Allah untuk intim dengan ciptaan-ciptaan baruNya, Ia ingin melalui kesatuan ini bumi dikembalikan pada tujuan awal masa awal penciptaan, yaitu penuh dengan orang-orang yang takut kepada Allah. 

Pelaksanaan tugas ini dapat dilakukan dengan bermacam-macam cara, disesuaikan dengan konteks budaya masing-masing lingkungan (ladang). Beberapa orang melakukannya dengan cara berinteraksi dengan tetangganya, atau ada juga yang menjangkau teman kerjanya, rekan bisnisnya, ada yang menolong orang-orang miskin, anak-anak sekolah atau teman kostnya. Banyak juga yang pergi kepada saudaranya, keluarganya jauh atau dekat, atau orang tuanya, dan lain-lain. Begitu luasnya, sampai kita tidak menyadari bahwa ternyata mereka (the lost) tinggal di sekitar kita dan setiap hari berinteraksi dengan kita. Bahkan proyek penjangkauan kepada suku-suku yang terhilang dan bangsa-bangsa yang belum mengenal Injil sudah bergerak sejak jaman rasul-rasul dan sampai sekarang ini. Kuasa Injil terus bergerak meluas sampai setiap suku, kaum dan bahasa akhinya mendengar berita baik itu. Luar biasa bukan? Coba dengar dan pikirkan panggilan ini: “Siapa yang mau pergi kepada mereka untuk Aku?” demikian seruan Allah (Yes. 6:8).

Pemahaman kita tentang dunia misi terus berkembang dan sampai sekarang kita memahami bahwa untuk “pergi kepada yang terhilang” tidak lagi harus membutuhkan biaya yang tinggi dan pengorbanan yang besar. Cukup keluar dari kehidupan kita (pintu kamar, pintu rumah, keluar halaman, dst.) dan mulai mengasihi, memahami kehidupan orang lain, dan membagi. Sebuah tindakan sederhana yang bisa kita lakukan secara alamiah. 

Setelah lahir baru dan mendapat tantangan dari pemimpin jemaatnya, Indra, dengan idealismenya, menyadari bahwa dia perlu untuk pergi dan membagi Injil. Dengan semangat menggebu, tiap sore dia dan seorang teman satu gereja pergi ke stadion dan mendatangi tiap-tiap orang yang sedang asyik berolahraga dan mulai menyadarkan orang tentang dosa-dosa mereka, dan menawarkan keselamatan. Ada yang menanggapi, tetapi tanggapan negatif dan tidak sedikit juga yang cuek terhadap mereka. Bahkan beberapa kali juga dia hampir dipukuli, karena dianggap mengkristenkan orang. Caramu itu baik Ndra, tapi kurang bijaksana!

Mengenal Secara Pribadi

Penginjilan bukan sekedar tindakan atau aksi singkat, sekalipun hal itu kadang terjadi dan berhasil. Tetapi adalah sebuah proses yang diawali dengan menginjili diri sendiri. Menaruh diri kita pada pengenalan akan Injil itu. Jika kita belum melakukan langkah awal ini, akan sulit bagi kita untuk memperkenalkan Pribadi yang bahkan kita belum kenal sebelumnya. Seorang prajurit, diawal karirnya selalu menghabiskan banyak waktu untuk berlatih perang, menguasai senjata, mengenal medan, berlatih strategi / cara melumpuhkan lawan, berlatih daya tahan dan survive ketika berada dalam keadaan tertekan, dll. Semua itu dilakukan sebagai persiapan dan strategi, ketika harus berhadapan dengan lawan yang sesungguhnya. Ketidaksiapan seorang prajurit di medan perang sangat berbahaya bagi dirinya dan juga timnya.

Membangun hubungan pribadi dengan Allah, sama artinya dengan latihan bagi seorang prajurit, sebelum pergi berperang. Ini adalah masa-masa dimana kita mulai belajar mengenal dan memahami Allah secara pribadi. Melalui saat teduh dan berdoa setiap hari, kita akan ditolong untuk mengalami damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal. Kemampuan untuk mendengarkan dan mengerti suara Allah akan ditajamkan hari demi hari. Bahkan Janji-janji Allah akan kita nikmati melalui proses ini. Tanpa kita sadari karakter-karakter kita mulai diubahkan, dan itu terjadi oleh kuasa Roh Kudus, bukan oleh kuasa yang lain. Kita diajar oleh Firman Allah langsung dan melihat bagaimana orang-orang kuat di jaman Perjanjian Lama dan Baru mengerjakan bagian mereka sebagai saksi Allah. Roh kita semakin kuat seiring pertumbuhan rohani kita. Ada kalanya Allah membiarkan suatu masalah terjadi, tetapi hal inipun tidak membuat orang yang mengenal Allah menjadi panik, malah meyakini bahwa pasti ada jalan keluar untuk masalah ini. Justru masalah demi masalah semakin menguatkan kebergantungannya pada Allah. Hari demi hari pengenalannya akan Allah terus ditambahkan. Hari demi hari juga dia semakin terampil bagaimana semestinya menggunakan Firman Allah.

Setelah Indra menikmati proses ini, tanpa dia sadari mulai tumbuh belas kasihan di hatinya untuk beberapa teman kuliahnya. Maka mulai banyak waktu dia gunakan untuk mendoakan Robert, Nico dan Desi. Robert dan Desi agamanya Kristen, tetapi gaya hidup mereka sangat tidak mencerminkan anak-anak Tuhan. Sementara Nico adalah orang fokus yang kebetulan memang teman dekat Indra. Indra memegang prinsip bahwa dirinya tidak boleh mendahului doanya untuk menjangkau teman-temannya ini. Setelah merasa cukup mendoakan mereka, sambil tetap terus berdoa, Indra mulai menunjukkan kasih yang lebih nyata lagi kepada mereka.

Jika dulunya hanya sebatas meminjamkan catatan kuliah atau mentraktir mereka dan kebaikan-kebaikan umum lainnya, maka kini teman-temannya ini mulai dibuat heran dengan perubahan watak dan perilaku Indra. Sampai di sini, Injil belum disampaikan secara langsung, tetapi Robert, Nico dan Desi sudah merasakan Injil melalui kehidupan Indra, meskipun mereka tidak tahu bahwa Injil yang membuat semuanya itu. Semakin hari, mereka semakin merasakan secara nyata kebaikan Indra, kasih yang lain dari yang mereka pernah rasakan sebelumnya. Mereka dibuat kagum dan mulai muncul daya tarik untuk mau bisa seperti Indra. Pintu sudah dibuka, selanjutnya terserah Indra...

Tentu saja tidak semua akan berjalan seindah ini. Adakalanya sudah bertahun-tahun berdoa dan mengasihi tetangga, bukannya mereka berubah tetapi kita yang malah tertipu, hanya karena mempercayai mereka. Atau sudah banyak petobat baru, tetapi mereka sulit bertumbuh dan malah kembali lagi ke kehidupan lama. Dan banyak lagi kekecewaan dan kesedihan lain yang dialami. Di mana Engkau di saat-saat seperti ini? 

Abraham tidak melihat dan mungkin juga tidak tahu bagaimana janji tentang bangsa yang besar itu digenapi. Musa dibuat pusing dengan kedegilan bangsa Israel dan akhirnya tidak diperkenankan melihat Tanah Perjanjian itu. Yesaya, Yeremia, dan banyak nabi lain tidak melihat bagaimana nubuatan-nubuatan mereka digenapi. Para Rasul, termasuk juga Paulus, tidak melihat bahwa Injil telah sampai ke tanah Jawa. Mereka hanya yakin bahwa itu akan terjadi. Orang-orang ini dan pahlawan-pahlawan iman lainnya juga telah melewati dan merasakan kesakitan, pergumulan dan tekanan hidup yang berat, penolakan, kekecewaan.

Tetapi keyakinan dan iman mereka tidak mampu dimatikan dengan penderitaan seperti itu. Biarpun secara jasmani mereka akhirnya mati, namun hidup mereka (yang telah diinjili, sehingga yang tampak adalah Injil itu sendiri) tetap hidup dan terus mempengaruhi orang-orang lain lagi, sampai sekarang! 

Kita harus meyakini bahwa apapun juga yang kita lakukan demi kemajuan Injil, adalah mendatangkan buah yang kekal. Mungkin kita seperti Abraham, tidak melihat buah dari pekerjaan kita, tetapi itupun bukan masalah bagi Allah. Dan bukan berarti juga bahwa pekerjaan kita tidak mendatangkan buah, karena bisa jadi orang lain yang melanjutkan pekerjaan kitalah yang menikmati buah itu, atau malah generasi berikutnya? Walahu’ alam. Tetap ada berkat bagi mereka yang bekerja. Dan kalau prosesnya berjalan demikian, bukankah kita semestinya bersyukur, karena kita dijagai dari kesombongan rohani yang justru berpotensi menghancurkan kita. Puji Tuhan bahwa Allah kita kreatif.

Sampai Ke Ujung Bumi

Dan jika ada di antara kita, yang mendapat panggilan khusus untuk menjangkau ke kota lain, suku lain, atau bangsa lain, istilahnya “sampai ke ujung bumi”, percayalah bahwa latihan-latihan rohani kita sangat menolong untuk mampu menjalankan Amanat Agung ini. Di ladang asing, tekanan yang kita hadapi tidak saja berat, tetapi juga aneh, unik dan ra umum. Kita bisa saja menghadapi sesuatu yang benar-benar beda, saya serius dengan hal ini! Semua itu mungkin, karena kita menghadapi lingkungan yang baru, budaya baru, gaya hidup yang baru, orang-orang yang mungkin juga beda ras dengan kita. Tetapi syukurlah bahwa latihan-latihan rohani kita sudah disetting Allah untuk mampu mengatasi perbedaan-perbedaan dan tekanan-tekanan yang seperti apapun juga. Seandainyapun tekanan yang kita hadapi terasa terlalu berat, kita tidak akan canggung atau ragu untuk berteriak lirih:”ya Abba, ya Bapa”, datang pada Allah yang seperti di Matius 11:28, dan mulai menikmati kelegaan yang diberikan Allah. Betapa indah Komandan kita itu. Bahkan ketika kita gagal (terutama untuk taat), maka kasih karuniaNya yang akan menghibur kita. Hubungan yang intim dengan Allah mulanya akan mendatangkan keuntungan bagi kita, karena Injil bekerja di dalam diri kita. Ketekunan dalam melakukan bagian ini memungkinkan kita mengetahui isi hati Allah yang sesungguhnya, dan memungkinkan kita juga untuk berkata “ya” bagi panggilanNya.

Sebagai penutup, saya mau mengingatkan bahwa seorang prajurit yang telah terlatih, tidak akan berhenti berlatih, biarpun sudah hebat dia. Tetapi dia akan terus berlatih, untuk berjaga-jaga dan supaya selalu siap seandainya serangan datang tiba-tiba. 

“Dan mereka semua tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, sekalipun iman mereka telah memberikan kepada mereka suatu kesaksian yang baik.
Sebab Allah telah menyediakan sesuatu yang lebih baik bagi kita; tanpa kita mereka tidak dapat sampai kepada kesempurnaan.”

(Ibrani 11:39, 40)


Dalam kasihNya,

Rudie Ariwibowo

03 Maret 2009

MEMANDANG SEBUAH PEMBERIAN



Memberi mempunyai arti menyerahkan hak kita atau sesuatu yang menjadi milik kita kepada orang lain agar menjadi milik orang itu. Ini adalah definisi sederhana mengenai memberi. Jika saya mempunyai dua buah apel dan saya menyerahkan satu apel kepada Mas Tatok, sehingga Mas Tatok juga menikmati apel itu, maka saya sudah melakukan tindakan memberi. Semua orang dapat melakukan hal itu. Tetapi, bagaimana kita semestinya memandang dan mengerjakan sebuah pemberian (persembahan), terutama yang menyangkut hubungan kita dengan Allah?

Pemberian dalam konteks Tubuh Kristus

Allah mengajarkan makna sebuah “pemberian” bukan pada teorinya saja, tetapi Dia juga menunjukkan cara bagaimana memberi. Ingat Yohanes 3:16 ? Apa yang menjadi motivasi Allah dalam memberikan karuniaNya pada dunia? Kasih, kasih yang begitu besar dan memang itulah satu-satunya dasar bagi orang percaya untuk memberi. Kerelaan akan muncul manakala kasih ada pada seseorang. Tetapi, apa itu kasih? Kasih dapat diartikan mengusahakan seluas-luasnya keuntungan untuk orang lain dengan mengabaikan keuntungan diri sendiri. Karena sesungguhnya keuntungan kita adalah bahwa orang-orang yang kita kasihi diberkati Allah, semakin mengenal Allah, bertumbuh dalam watak-watak yang positif dan semakin bijaksana. 

Dalam kehidupan berjemaat, entah itu gereja, lembaga pelayanan, persekutuan bersama dan bentuk-bentuk lain, jalannya organisasi biasanya didukung oleh persembahan orang-orang yang terbeban untuk mendukungnya. 

Bangsa Israel, setelah keluar dari Tanah Mesir mendapat perintah dari Allah untuk tidak melupakan persembahan, yaitu korban-korban. Saya mencatat ada 5 macam korban yang harus ditaati untuk dipersembahkan, yaitu: korban bakaran, korban sajian, korban keselamatan, korban penghapus dosa, korban penebus salah. Di luar korban-korban ini ada juga persembahan yang berupa barang-barang. Dari persembahan itu, sebagian diperuntukkan bagi Harun dan anak-anaknya serta keturunan Lewi, yaitu mereka yang bertugas di Kemah Suci. Jadi Allah menjamin kehidupan Harun dan anak-anaknya serta orang-orang Lewi melalui banga Israel.

Dalam pelayanan kita, orang-orang yang bertugas dalam pelayanan secara full time mendapat pemeliharaan dari Allah, salah satu caranya adalah melalui persembahan dari orang-orang yang terbeban untuk mendukung pelayanan. 

Dalam persembahan selalu ada proyek-proyek yang menjadi sasaran persembahan, sehingga alokasi dana menjadi jelas untuk apa saja, misalnya: untuk pembangunan gereja, untuk beasiswa, untuk keluarga tertentu, dst. Namun demikan, perlu dipahami bahwa cara pandang kita adalah bahwa kita tidak sedang memberi pada proyek, melainkan kepada Allah. Jika saya sudah menetapkan bahwa setiap bulan saya akan memberikan sekian rupiah untuk proyek Keluarga Pdt. Tyas, maka saya harus memandangnya bahwa saya tidak sedang memberi kepada keluarga Pdt. Tyas, tetapi memberi kepada Allah. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi seandainya saya memandang bahwa sedang memberi kepada keluarga ini, apakah pemberian saya tetap tulus dengan dasar kasih, manakala saya sedang merasakan ketidaknyamanan ketika berhubungan dengan mereka? Pemberian adalah kepada Allah. Jika ini cara pandang kita, maka tidak ada lagi hal yang dapat mengganggu kemurnian kita.

Sebuah Pengorbanan

Suatu saat, Daud diminta nabi Gad untuk mendirikan mezbah bagi Tuhan ditempat pengirikan Arauna, orang Yebus (2 Samuel 24:18), berkenaan dengan murka Tuhan atas bangsa Israel karena kesalahan yang dibuat oleh Daud. Ketika Arauna melihat hal itu, maka dia bersedia memberikan secara gratis tempat pengirikannya dan lembu-lembunya beserta peralatan lain kepada Daud untuk dipakai sebagai korban bakarannya. Tetapi, apa jawab Daud? “Bukan begitu, melainkan aku mau membelinya dari padamu dengan membayar harganya, sebab aku tidak mau mempersembahkan kepada Tuhan, Allahku, korban bakaran dengan tidak membayar apa-apa” (24:24).

Daud tidak mau mempersembahkan korban tanpa dia mengorbankan sesuatu yang ada pada dirinya. Pemberian harus sampai pada titik kita merasakan sebuah pengorbanan atas apa yang kita miliki. Kita harus bisa merasakan sayang (eman = Jawa, red.). Jika dalam pemberian kita sudah sampai pada perasaan yang demikian, bisa dikatakan kita sudah memberikan yang terbaik. Orang akan merasa sayang jika apa yang terbaik dari yang dipunyainya hilang, diambil orang lain, atau tidak menjadi miliknya lagi. Sekali lagi Allah memberi teladan dalam memberikan yang terbaik, Dia tidak mengutus malaikatNya atau para serdaduNya, melainkan diriNya sendiri yang rela dikorbankan guna keselamatan manusia. 


Taat pada Allah

Waktu itu, Abraham hanya berkata pada Ishak: “Allah yang akan menyediakannya” (Kej. 22:8). Terkadang apa yang menjadi hambatan bagi kita untuk memberi adalah ketidakpercayaan kita pada kebaikan Allah. Kita susah untuk bisa mengerti dan percaya bahwa Allah yang benar-benar akan menolong kita dan memelihara kita. OK, mungkin bukan itu masalahnya, kita percaya dan sangat yakin bahwa Allah yang akan menolong dan memelihara kita, itu bagus. Tetapi bagaimana dengan ini: bahwa kita tidak suka dengan “cara” Allah menolong dan memelihara kita. Kita harus menanti, bahkan kadang-kadang sampai benar-benar perlu untuk “puasa”, harus rela tidak bisa makan di KFC dulu, beli kaos Billabong yang baru, sepatu baru, dan lain-lain yang baru. Ingat, bukan keinginan kita, melainkan kebutuhan kita yang akan Dia penuhi.

Jika memang kita perlu untuk “puasa” hari itu, berarti itu memang kebutuhan kita. Kesulitan kebanyakan orang adalah karena ketidakmauan mereka untuk bersyukur atas “cara” Allah, sehingga tidak suka dengan cara-Nya. Satu hal yang harus kita pahami adalah: bahwa Allah tidak akan membuat kita kekurangan atau mati kelaparan.

Sebuah refleksi mengenai respon Abraham saat diminta Allah untuk mengorbankan Ishak, dikisahkan bahwa Abraham menangis dan merasa tidak percaya bahwa Allah akan membuat permintaan yang demikian. Abraham mengalami pergumulan yang hebat dan terus menerus meratapi anaknya. Dia sangat tertekan sehingga tampak seperti seorang gila, yang terus menerus bicara dengan nada yang agak tinggi, tanpa lawan bicara. Mungkin ini sebuah respon yang biasa kita lakukan saat kita mendapati sebuah pilihan yang sulit. Namun, Abraham (yang disebut Bapa orang percaya) mengambil keputusan untuk taat pada Allah. Sebuah keputusan yang penuh risiko, mengingat bahwa dia akan kehilangan anak yang sangat disayanginya. Saya tidak percaya bahwa Abraham mengambil keputusan yang ceroboh dan bodoh, tetapi saya lebih percaya bahwa Abraham mengenal Allahnya sebagai Pribadi yang sanggup mengganti dukacitanya dengan sukacita yang melimpah, yang sanggup menjawab setiap janji-janji yang telah diucapkanNya.

Bagaimana dengan kita, masihkah kita berani mengklaim bahwa kita mengenal Allah, namun kita tidak mau percaya bahwa Allah sanggup:

- mengganti dukacita kita dengan sukacitaNya yang melimpah.
- menjawab janjiNya, bahwa Dia akan memenuhi segala kebutuhan kita.


Ketulusan

Apa yang salah dengan persembahan Ananias dan Safira? Bukankah tetap menjadi hak mereka untuk memberikan sekehendak hati mereka? Namun demikian, Allah tidak berkenan. “Jadi mengapa ada maksud di dalam hatimu untuk berbuat yang seperti itu?” kata Petrus. Ananias dan istrinya bukannya tidak mau memberi, namun mereka tidak tulus dalam melakukannya. Ada sebagian yang mereka tahan, dan bukan itu masalahnya, namun karena ada maksud tidak benar dalam hati mereka.

Ketulusan berhubungan dengan hati kita, hanya kita dan Allah yang tahu apa yang ada dalam hati kita. Hal yang lebih ironis lagi adalah bahwa manusia adalah makhluk nomor satu yang tidak dapat menjaga hatinya. Karena menjadi ruang tersembunyi yang tidak dapat dilihat, didengar dan dirasakan oleh sesamanya, maka iblis memilih untuk bermain di dalam hati kita. Betapa banyaknya kejahatan yang terjadi atau yang muncul melalui dan dalam hati kita, sehingga kita perlu untuk minta pertolongan Allah dalam menjaga kemurnian hati kita. Pemazmur dalam doanya berkata: Ujilah aku, ya TUHAN, dan cobalah aku; selidikilah batinku dan hatiku (Maz. 26:2).

Dalam pemberian dibutuhkan ketulusan, agar pemberian kita menjadi berkat bagi proyek yang kita tuju. Jika tidak demikian, maka sia-sia kita memberi karena tidak ada manfaatnya sama sekali.


Dukungan terhadap Visi Amanat Agung Kristus

Amanat Kristus yang terakhir sebelum Dia terangkat ke sorga, seperti yang tercatat pada Matius 28:19 – 20 adalah: “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”

Para murid mendapat tugas ini, demikian juga orang percaya sekarang ini. Untuk melaksanakan visi ini diperlukan banyak pengorbanan, diantaranya biaya-biaya untuk menjangkau mereka yang belum mengenal Injil. Dimulai dari proses mengutus, menginjili, meneguhkan dan memperlengkapi sampai kemudian pada pengutusan orang-orang yang telah diperlengkapi. Selain itu, dibutuhkan juga orang-orang yang yang bersedia sepenuh waktu untuk fokus pada pekerjaan ini, tujuannya agar dapat mencurahkan segenap hidup dan pikirannya untuk orang-orang dan mengembangkan orang-orang itu. Contoh orang-orang ini adalah: pendeta, misionaris, staff fulltimer, dll. Kebutuhan hidup mereka dipenuhi dari persembahan jemaat atau orang-orang yang bersedia mendukungnya.

Persembahan, terutama diperuntukkan bagi proyek-proyek yang berhubungan dengan pelaksanaan visi AAK. Oleh sebab itu, sangat penting bagi kita untuk terus setia dengan bagian kita untuk terus memberi agar semakin banyak orang-orang yang menjadi murid Kristus.


kata-Nya: "Aku bersumpah demi diri-Ku sendiri demikianlah firman TUHAN :Karena engkau telah berbuat demikian, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku,
maka Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sangat banyak seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, dan keturunanmu itu akan menduduki kota-kota musuhnya.
Oleh keturunanmulah semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, karena engkau mendengarkan firman-Ku."
(Kejadian 22:16-18)

 



Dalam kasihNya,


Rudie Ariwibowo


20 Februari 2009

BERIMAN DAN HIDUP DALAM JANJI ALLAH

Berapa banyak di antara kita yang percaya bahwa Allah yang kita sembah adalah hidup? Dan berapa banyak yang percaya bahwa Allah kita mati? Jika kita mau belajar mengenai iman dan janji Allah, maka hal utama yang harus kita yakini adalah apakah bagi saya Allah itu nyata atau tidak. Tanpa keyakinan ini, mustahil kita dapat mengalami iman dan janji Allah.

Banyak sekali sekarang ini kita dapati slogan-slogan kristiani yang menyatakan mengenai kuasa iman, doa yang dijawab, menggapai janji Allah, dan lain-lain. Dan kita setuju untuk secara serentak berkata: Amin!, Halleluya. Tapi sedikit sekali tampaknya yang mau dan berani mengalaminya. Ke mana kita saat Allah menantang untuk melakukannya?

BERIMAN
Suatu pagi di pertengahan tahun 1997, saya saat teduh mengenai Markus 11:24. Hari itu tanggal 16 Agustus yang saya tahu sehari lagi adalah hari ulang tahun salah seorang teman saya. Dalam kondisi tidak ada uang sama sekali untuk membeli kado, saya mencoba mempratekkan kebenaran ayat ini. Siang hari setelah itu, Bapak saya tiba-tiba mendatangi saya di teras depan dan memberikan sejumlah uang ke saya tanpa maksud apa-apa. Yang saya tahu, biasanya Bapak akan memberi uang / hadiah / imbalan jika saya mau melakukan suatu pekerjaan tertentu, atau jika ada sedikit uang kembalian dari pembelian sesuatu biasanya itu menjadi milik saya. Itu adalah pengalaman iman saya yang pertama yang memberi pengaruh luar biasa terhadap pengalaman-pengalaman selanjutnya.

Beriman berarti meyakini bahwa Allah akan melakukannya. Syaratnya cuma satu, yaitu percaya. Jika Anda mempercayai saya untuk memimpin sebuah kelompok, itu akan sangat menolong saya untuk dapat melakukannya dengan baik. Tetapi, sedikit saja keraguan sudah cukup untuk mengacaukan saya. Begitu pula dengan kita, sedikit kebimbangan sudah cukup untuk gagalnya sebuah iman. Bukankah Petrus sudah berhasil berjalan di atas air, tapi apa yang kemudian membuatnya jatuh?

Beriman dimulai dari kebutuhan kita akan sesuatu, kita berdoa meminta kepada Allah agar memberikan sesuai dengan yang kita butuhkan, selesai! Mudah sekali ternyata. Yang berat adalah proses selanjutnya, yaitu mempercayai bahwa Allah akan melakukannya dan sikap kita dengan setiap kemungkinan jawabanNya. Paijo boleh berbangga mempunyai pacar secantik dan sepintar Inem. Suatu hari, dia pengin mengirim surat ke Inem. Setelah bergumul semalam-malaman, menyusun kata demi kata menjadi sebuah rangkaian kalimat yang romantis dan puitis, jadilah sebuah surat buat si Inem. Karena terpisah oleh jarak yang begitu jauhnya, maka Paijo berencana untuk mengirim lewat pos saja, “biar ngirit”, pikirnya. Ketika sampai di kantor pos, tiba-tiba dia berpikir: “jangan-jangan nanti salah alamat atau pak pos nggak tahu alamatnya si Inem, wah bisa kacau nanti!”. Lalu Paijo memutuskan untuk mengantarnya sendiri, demi yayang tak apalah. Anggaran yang tadinya hanya Rp 2.000,- membengkak menjadi hampir Rp 10.000,- karena ada beberapa pengeluaran tidak terduga di sepanjang perjalanan. Sampai di rumah Inem, ternyata orangnya sedang pergi arisan ibu-ibu PKK se-RW, yang ada cuma si Mona, pembantu Inem yang baru seminggu kerja di situ. “Gimana kalo kutitipkan si Mona saja yah? Ah, jangan-jangan nanti dia lupa, atau jangan-jangan malah dia yang baca. Biarlah kutunggu saja, toh cuma arisan, bentar juga pulang” pikir si Paijo. Waktu berlalu, sampai kemudian jam 19.47, si Mona datang dengan tergesa-gesa sambil berkata: “Tuan, Non Inem barusan telpon bilang nggak pulang malam ini karena mau pergi ke luar kota ke tempat pacarnya, saya lupa bilang kalo lagi ada tamu, maaf…”. Blaik! Paijo langsung lemes.

Cerita ini mungkin sudah usang, tapi ternyata kita sering bersikap seperti si Paijo: tidak bisa percaya Pak Pos, tidak percaya si Mona, sering berujar: jangan-jangan …. Jika kita senang disebut sebagai orang percaya, apa konsekuensinya? Kita memang tidak bisa memastikan kapan Allah akan menjawab doa-doa kita. Tapi adalah anugerah jika kita diberi kesempatan untuk terlibat dalam proses mengenal Allah, selama masa-masa penantian itu.

Allah tidak pernah main-main dengan doa-doa kita, selalu dituntunnya kita agar setiap permintaan kita benar-benar menjadi berkat bagi kita. Seperti seorang ayah yang menuntun anaknya yang minta mobil-mobilan, diajarinya setia untuk menabung, diajari hidup sederhana, dan seterusnya hingga dapat membeli sebuah mobil sungguhan, meski terkadang dengan sedikit mujizat dari sang ayah. Luar biasa, bukan?

Pasti ada minimal satu sifat Allah yang dikenalkan pada kita melalui jawaban-jawaban doa kita. Ketika akan berangkat ke sebuah acara Persekutuan Mahasiswa, sekelompok anak kost sepakat datang bersama-sama, semua! Tapi ada sedikit masalah, langit kelihatan mendung dan ada banyak jemuran yang masih belum kering. Dengan berani, seorang teman berkata dengan yakin: “Tidak akan hujan!”. Begitulah, setelah pulang dari persekutuan tersebut mereka mendapati pakaian-pakaian itu basah semua karena kehujanan. Apanya yang salah? Bukankah sudah yakin, sepakat lagi! Firman Tuhan bilang 2 orang atau lebih sepakat, permintaannya akan dikabulkan, tapi nyatanya?

Teman-teman kostku, tidak ada yang salah dengan iman kalian. Jika kita yakin segala sesuatu (termasuk hidup kita) berada dalam kedaulatan Allah, maka apapun yang terjadi, apapun yang menjadi jawaban atas iman kita adalah mendatangkan kebaikan bagi kita (Roma 8:28), untuk itu jangan langsung menghakimi Allah dulu.

Yang terpenting dari beriman adalah bukan jawabannya, tetapi buahnya yang semakin meningkatkan kualitas hubungan kita dengan Allah, semakin mendewasakan kita dan semakin membuat kita paham akan siapa Allah bagi kita. Salah satu karunia saya adalah beriman, tetapi tidak selamanya juga Allah menjawab sesuai iman saya. Tapi akan selamanya Allah membuka pribadiNya untuk saya kenal.

HIDUP DALAM JANJI ALLAH
Dunia yang kita hidupi, adalah dunia dengan hari-hari penuh kejahatan. Komitmen untuk taat dan setia kepada Allah merupakan perjuangan tiada henti. Banyak kegagalan, airmata, depresi yang menyertai. Ini adalah peperangan yang mau tidak mau, siap tidak siap kita harus hadapi. Pilihannya hanya dua, menang atau kalah. Tidak ada istilah remis atau damai dalam peperangan ini.

Janji Allah dimaksudkan untuk menjadi kemenangan kita atas peperangan ini. Ketika suatu janji dinyatakan Allah, maka itu berarti jaminan kemenangan menjadi milik kita. Saat janji diucapkan adalah saat iblis dan rombongannya lari ketakutan, karena kekalahan mereka sudah pasti akan terjadi. Allah tidak pernah lalai untuk melunasi janjiNya itu (Bil. 23:19).

Para tokoh Alkitab pada jaman dulu menikmati kemenangannya bukan karena usaha mereka, tetapi justru karena janji Allah yang dinyatakan pada mereka:
  • Nuh, memperoleh janji menjadi satu-satunya keluarga yang diselamatkan dari air bah.
  • Abraham, akan menjadi berkat bagi semua kaum di muka bumi (saat ini sedang digenapi).
  • Yusuf, dijanjikan akan menjadi seorang penguasa.
  • Musa & bangsa Israel, dijanjikan sebuah tanah perjanjian.
  • Yosua, janji luar biasa melalui kakinya (Yos. 1:3,9)
  • dst, sampai kisah pengutusan Pauluspun dimulai dengan sebuah janji Allah (Kis. 13:2), sampai… sekarang dan akan terus berlangsung.

Bagaimana agar memperoleh janji Allah?

Abraham menikmati dengan cara Allah yang menyatakannya sendiri, demikian pula dengan Musa, Yusuf, dll. Daud menerima janji Allah dengan cara meminta kepada Allah, demikian pula dengan Salomo, Raja Yosafat, dll. Jika Allah tidak menyatakan sesuatu kepada kita, maka hendaklah kita memintanya, karena inipun yang diajarkan oleh Yesus, bahwa kita diminta untuk meminta kepada Allah (Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatupun dalam nama-Ku.

Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu. Yoh. 16:24). Jika Allah yang adalah empunya segala sesuatu ini menyatakan kunci berkat yang sedemikian besar, apakah kita akan meminta sesuatu yang kecil? Saya senang dengan kata-kata dari Dawson Trotman: jangan minta kacang goreng! Tapi mintalah bangsa-bangsa! Sanggupkah Allah?

Menanti sampai digenapi
Inilah yang menjadi pertanyaan bagi sebagian besar orang berkaitan dengan daya tahan tiap pribadi untuk menanti Allah menggenapi janjiNya. Orang-orang yang tekun dalam doa dan firman akan terus menikmati masa-masa penantian ini, jika mulai hambar mereka akan senantiasa diteguhkan dan disegarkan oleh Roh Kudus. Orang-orang ini paham, jika suatu janji telah diikrarkan, maka tugas selanjutnya lebih mudah, tinggal terus menabur dan menyiram, dan taat pada Allah. Mengapa demikian, ingat, perjanjian antar dua pihak akan terus berjalan jika masing-masing pihak tetap pada kesepakatan semula dan tidak berusaha menyalahi aturan.

Dulu saya pernah dijanjikan sebuah sepeda balap oleh Bapak saya jika bersedia masuk ke sekolah Kristen, saya menurut dan sepeda itu menjadi milik saya, seandainya saya tidak menurut mungkin kalau berangkat sekolah masih bersama sepeda BMX merah. Begitu pula dengan Allah. Dia akan meneruskan sampai digenapiNya apa yang telah dijanjikanNya jika kita tetap taat, di lain pihak Dia berhak pula membatalkan janjiNya jika kita tidak taat pada Dia.

Musa pernah mengalaminya sekali, dia tidak taat ketika diminta Allah untuk berkata kepada bukit batu agar mengeluarkan air, tetapi dia malah memukul bukit itu, akibatnya dia tidak diijinkan Allah masuk ke negeri perjanjian itu (Bil. 20:12). Salomo, raja terbesar yang pernah hidup, juga mengalami hal ini. Dia tidak selamanya hidup setia kepada Allah Israel, akibatnya janji berkat yang dialamatkan kepada keturunan Daud tidak dilanjutkan Allah, melalui pecahnya kerajaan Israel hingga runtuhnya kerajaan itu pada jaman Nebukadnezar berkuasa di Babel. Janji Allah dapat dibatalkanNya jika kita tidak taat pada Allah.

Anugerah
Ada satu lagi janji Allah, yaitu yang dinyatakanNya tanpa syarat. Janji ini dapat kita istilahkan sebagai Anugerah Allah. Anugerah ini bersifat kekal dan tidak dipengaruhi oleh sikap kita atau ketaatan kita pada Allah. Ketika Allah menyatakan janji kepada Abraham, bahwa dia akan menjadi suatu bangsa yang besar dan akan menjadi berkat bagi semua kaum di muka bumi, ini adalah suatu contoh anugerah Allah (Kej. 17:7). Semula anugerah ini hanya diperuntukkan bagi keturunan yang lahir dari Sara (Kej.21:12), tetapi kemudian dalam perkembangannya berkat inipun berlaku atas keturunan Hagar, yaitu Ismael (Kej.21:13). Kita lihat di sini, janji ini dinyatakan oleh Allah tanpa syarat apapun (bandingkan dengan janji yang dinyatakan pada Daud, mengenai keutuhan kerajaan Israel, 1 Raj. 2:4). Sampai sekarang, setelah ribuan tahun berlalu sejak janji ini dinyatakan, kita masih dan sedang menikmati berkat ini dan sedang terus berlangsung sampai semua kaum di muka bumi mendapat berkat, yaitu mendengar Kabar Sukacita.


Pemilihan atas Israel sebagai umat Allah adalah contoh lain dari anugerah Allah. Israel, adalah suatu bangsa yang paling tegar tengkuk didalam mengikuti illahnya. Ketika berada dalam suasana damai, aman, nyaman, maka ketidaktaatan Israel muncul sehingga seringkali menimbulkan kecemburuan Allah. Akan tetapi Allah tetap menganggap Israel sebagai umat pilihanNya. Kenyataan bahwa Israel pernah dihancurkan, dicerai beraikan Allah adalah juga dalam rangka Allah menunjukkan kasihNya kepada bangsa ini, yaitu memurnikan Israel sehingga menjadi umat yang benar-benar mengasihi Allah.

Penutup
Iman, adalah karunia Allah bagi setiap yang percaya bahwa Allah akan menyertai mereka. Bagian kita adalah melakukannya dan jangan takut atau bimbang. Jika iman kita dijawab, pujilah Tuhan, atau jikapun tidak, Dia tetap Allah kita. Janji adalah kemenangan bagi setiap orang percaya, karena Allah pasti menggenapinya. Jika sesuatu yang besar Allah berikan, mengapa kita minta sesuatu yang kecil? Mintalah pada Allah janji-janji yang besar, jika perlu yang besar sekali, karena Allah pasti memberikannya.


Dalam KasihNya,


Rudie Ariwibowo