Tampilkan postingan dengan label Pesona Alkitab. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pesona Alkitab. Tampilkan semua postingan

14 Desember 2009

BINTANG BETLEHEM DAN TAHUN KELAHIRAN ALMASIH


oleh : Bambang Noorsena

Kalau begitu, kira-kira bintang apakah yang dilihat orang Majus tersebut, yang mereka tafsirkan sebagai pertanda akan hadirnya seorang Raja Yahudi? Johannes Kepler, yang disebut sebagai bapa astronom Barat yang hidup pada abad ke-17, menerangkan Bintang Natal (The Christmas Star) atau Bintang Betlehem (The Betlehem’s Star) itu secara astronomik, sebagai konjungsi planet Jupiter dan Saturnus pada konstalasi Pisces. Dan konjungsi ini terjadi pada bulan Desember tahun 7 sebelum Masehi. Sebenarnya, Kepler bukan orang pertama yang mencari jawaban mengenai bintang itu dari segi astronomi. Seorang Bapa Gereja zaman permulaan, Klement dari Iskandariyah (hidup sekitar tahun 200), menulis bahwa "Bintang yang dilihat orang saleh di sebelah timur itu adalah bintang Novae". Bintang ini muncul pada waktu-waktu tertentu, kadang-kadang samar-samar, lalu sangat terang dan berangsur-angsur menghilang. Bintang Novae ini juga ditulis oleh ahli perbintangan China, bernama Ma Tuan Lien yang dikumpulkan dalam ensiklopedia China kuno berjudul: Wen Hien Thung Kao, yang menurut R.A. Rosenburg pernah menampakkan diri kira-kira pada zaman kelahiran Kristus.

Bintang manakah yang dapat disamakan dengan bintang Timur yang dilihat orang Majus itu? Dalam bahasa aslinya, kata yang diterjemahkan "di Timur", en te anatole. Artinya, bisa diterjemahkan juga: "yang terbit sangat terang". In its rising. Barangkali ini mencerminkan pengalaman dahsyat orang Majus karena sangat terang benderangnya bintang itu. Sangat pantaslah, bahwa sekian trilyun kali cahaya matahari harus dipancarkan untuk menandai kelahiran "Sang Terang Dunia". Orang-orang Majus itu mesti mencari makna astrologisnya. Kalau diterima bahwa bintang itu adalah konjungsi planet Jupiter dan Saturnus pada tahun 7 SM, maka ini cocok dengan lempengan batu ditemukan di Menara kuno Zippar, di tepi sungai Efrat. Jadi tempatnya juga sekaligus cocok dengan asal orang-orang Majus tadi. Bunyi lempengan batu itu, dalam bahasa Babel kuno: MULLU-BABA U KAIWANU INA ZIPPATI. Artinya: "Jupiter dan Saturnus dalam konstelasi Pisces." Perhitungan tanggalnya juga cocok, Desember 7 SM. Bukti-bukti arkeologi lain juga dijumpai dalam sebuah papyrus dari tahun 42 Masehi, yang juga mencatat konjungsi 2 planet itu. Sekarang papyrus ini disimpan di Berlin. Kembali ke lempengan Zippar dan hubungannya dengan orang Majus. Perlu saya tambahkan, bahwa lempengan Zippar ini pertama kali ditemukan oleh seorang sarjana Jerman bernama P.Scanable pada tahun 1925. Menurut Scanable, di kota Zippar terdapat sekolah Astrologi yang terkenal pada zaman Babel kuno.

Tadi saya kutip dari keterangan Aziz A. Atiya, bahwa orang-orang Majus berbicara dalam bahasa Arami. Lempengan Zippar menyebut dalam bahasa Babel KAIWANU, istilah Aramnya: KAWBAH. Jadi mungkin ucapan orang Majus itu mendekati dialeknya dengan terjemahan Peshitta: Hazin Geir Kawbah be Madintah. "Kami telah melihat bintangnya yang terbit di Timur". Dalam proses pertukaran bunyi, the ponetic corespondence, itu lazim terjadi dalam kajian bahasa serumpun. Kaiwanu, menjadi: Kawbah, dalam bahasa Aram. Dan paralel istilah bahasa Arabnya, barangkali: Kawakib, Kawkabat. Artinya sama, bintang atau sebuah bintang. Nah, lebih menarik lagi kalu kita coba melacak kira-kira adakah makna tertentu dalam "simbols of Babylonian Astrology". Ternyata ada. Bintang-bintang itu, dalam astrologi Babel kadang-kadang diidentikkan dengan bangsa-bangsa tetangga mereka, selain dikaitkan dengan makna lain. Dari hasil penelitian naskah-naskah kuno agama Babel, Pisces itu lambang the End Times, "zaman akhir". Jupiter sebagai planet terbesar, the royal planet in Babylonian astrology, melambangkan The Ruler, Raja atau Penguasa. Sedangkan Saturnus melambangkan Negara Palestina. Jadi, berdasarkan cara berfikir orang Babel, fenomena perbintangan itu dapat diartikan: "Seorang Raja, Penguasa telah datang pada zaman akhir ini, di Palestina". Nah, apakah kira-kira saja orang-orang Majus itu mencari lahirnya Raja Yahudi itu, berdasarkan makna simbol tersebut? Wallahu a’lam. Tapi kalau dikait-kaitkan begitu, akhirnya semakin jelas apakah latar belakang kisah-kisah Natal yang dicatat dalam Injil.

28 April 2009

RASUL TOMAS


Injil Yohanes memberikan pada kita gambaran yg lebih lengkap mengenai murid yg bernama Tomas. Yohanes mengatakan bahwa Tomas juga disebut Didimus (Yoh 20 : 24). Kata Yunani itu berarti "kembar" seperti juga kata Ibrani t'hom, yg di-Yunani-kan menjadi Thomas.

Kita tidak mengetahhui siapa Tomas sebelumnya, latar belakang keluarganya atau bagaimana ia dipanggil menjadi rasul. Injil Yohanes menceritakan keberanian Tomas untuk mengambil sikap dan pola pikir lain daripada murid-murid yg lain. Pada suatu kali Yesus mengatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia bermaksud kembali ke Yudea. Murid-murid yg lain memperingatkan Dia untuk tidak pergi karena kebencian masyarakat di sana kepada-Nya. Tetapi Tomas berkata, "Marilah kita pergi juga untuk mati bersama-sama dengan Dia" (Yoh 11 : 6).

Namun para pembaca modern sering melupakan keberanian Tomas ini; ia lebih sering dikenang sbgi seorang yg lemah dan peragu. Pada suatu kali Yesus berkata kepada para murid-Nya, "Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ." Tetapi Tomas menjawab, "Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?"  (Yoh 14 : 4-5).

Setelah Yesus bangkit dari antara orang mati, Tomas berkata pada teman2nya, "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dlm lambung-Nya, sekali2 aku tidak percaya" (Yoh 20 : 25). Dan beberapa hari kemudian Yesus menampakkan diri kepada Tomas dan murid2 lainnya, Tomas berseru, "Ya Tuhanku dan Allahku!" (Yoh 20 : 28). Para bapa Gereja mula-mula dulu sangat menghargai contoh yg diberikan Tomas. Agustinus mengomentarinya : "Ia (Tomas) telah meragukan supaya kita bisa tidak ragu."

Tradisi menyebutkan bahwa Tomas pernah menjadi misionaris di India. Konon ia mati sbg martir di sana dan dikuburkan di Mylapore (pinggiran kota Madras). Namanya terus diabadikan sbg nama sebuah gereja di sana : Marthoma, yg berarti "Tuan Tomas".

Sumber : Dunia Perjanjian Baru oleh JI Parker, dkk

20 Februari 2009

BERESITH : Kata Pertama dalam Alkitab

"Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi..." (Kej. 1:1)

Dalam naskah Ibrani, kalimat ini berbunyi, "bereshith bara Elohim eth hashshamayim we eth ha’arets". Jika dibaca sepintas, nampaknya tidak ada masalah dengan ayat ini. Namun, di kalangan penafsir Perjanjian Lama, justru ayat ini sangatlah kompleks. Di kalangan Yahudi sendiri berkembang sedikitnya tiga bentuk terjemahan yang berbeda, antara Ibn Ezra, Rashi, dan terjemahan tradisional.

Terjemahan Ibn Ezra dan Rashi menempatkan ayat tersebut di atas sebagai anak kalimat. Namun, Ibn Ezra menganggap ayat 2 sebagai induk kalimat, sementara Rashi menganggap ayat 3 sebagai induk kalimat. Terjemahan tradisional menempatkan ayat 1 merupakan induk kalimat, sedangkan ayat 2 dan 3 hanya sebagai pelengkap.
Saya ingin memfokuskan bahasan pada ayat 1 terlebih dahulu. Ada empat bagian yang harus dipahami, yaitu:

(1) Kata bereshith (“Pada mulanya...”) adalah suatu kata benda abstrak yang berhubungan dengan kata rosh (kepala) dan rishon (pertama). Dalam pemakaiannya, kata ini sering digunakan untuk menunjukkan suatu periode yang bersifat temporer atau sementara, misalnya “dari awal sampai akhir tahun...” (Ul. 11:12) atau “pada permulaan pemerintahan...” (Yer. 26:1). Dalam konteks Kej. 1:1, kata reshith menunjukkan permulaan waktu itu sendiri, bukanlah permulaan dari suatu periode kekekalan (bnd. Yes. 40:21; 41:4).

Terjemahan “pada mulanya...” merupakan suatu bentuk terjemahan yang tidak sepenuhnya menjelaskan makna kata bereshith. Kata bereshith dalam Kej. 1:1 ini lebih tepat diterjemahkan “pada awal dari...” atau “pada permulaan...” untuk menegaskan bahwa permulaan yang dimaksud bukanlah permulaan kekekalan, melainkan permulaan dari penciptaan langit dan bumi. Dengan demikian, maksud dari kata bereshith menjadi lebih jelas. Bukan mengatakan bahwa pernah ada suatu masa dimana Allah belum ada, melainkan untuk menegaskan bahwa inisiatif penciptaan itu berasal dari Allah bukan oleh kekuatan lain di luar Allah.

Kata bereshith merupakan bentuk ekspresi iman yang terkait dengan keseluruhan fondasi hidup. Maksud dari ayat ini adalah bahwa alam semesta beserta segala sesuatu yang ada di dalamnya, bergantung pada suatu konsep ilahi dan hanya bisa dipahami dalam terang rencana Allah.


(2) Kata bara dalam Bahasa Ibrani berarti “menciptakan.” Ini bukanlah kata yang umum digunakan dalam literatur-literatur Ibrani. Ada tiga hal penting yang harus menjadi catatan kita untuk bisa memahami makna kata bara. Pertama, kata ini hanya digunakan jika subyeknya adalah Allah, lebih spesifik lagi, Allah Israel. Kedua, teks yang menggunakan kata bara tidak pernah menyebutkan darimana sesuatu itu diciptakan. Ketiga, kata ini lebih sering digunakan dalam penciptaan manusia (1:27) dan hal-hal yang tidak terduga (Bil. 16:30; Yes. 65:17), selebihnya adalah penciptaan binatang-binatang besar di laut (Kej. 1:21), gunung-gunung (Am. 4:13), dan binatang-binatang (Mzm. 104:30).

Jadi, ada tiga makna penting juga dengan penggunaan kata ini:
1) Hanya ada satu ilah yang menciptakan segala sesuatu, yaitu YHWH (ALLAH). Kata ini sama sekali tidak pernah digunakan dalam hubungannya dengan ilah-ilah pagan.
2) Meskipun tidak menyebutkan darimana sesuatu itu diciptakan, namun bukan berarti bahwa kata bara merupakan bukti untuk memperkuat adanya pandangan creatio ex nihilo. Menurut W.H. Schmidt, seorang penafsir Perjanjian Lama dari Jerman, kata bara berfungsi untuk menjelaskan bahwa segala ide dan konsep penciptaan itu murni berasal dari Allah. Segala sesuatu diciptakan dengan firman dan eksistensi kekekalan-Nya.
3) Kata ini menjelaskan bagaimana Allah menciptakan segala sesuatu dengan kekuatan-Nya yang luar biasa.


(3) Kata Elohim dalam Bahasa Ibrani merupakan bentuk jamak dari kata El. Namun, penggunaan kata ini dalam naskah aslinya sama sekali bukan bermaksud menggambarkan Allah dalam jumlah jamak.

Sangat jelas dan tegas bahwa Perjanjian Lama sangat tidak kompromi dengan politeistik (penyembahan banyak ilah). Shema Yis’ra’el YHWH Eloheinu, YHWH Ekhad (Ul. 6:4) menjadi landasan teologis dalam konsep-konsep teologi Perjanjian Lama yang berkembang kemudian, sehingga tidak ada alasan bahwa kata Elohim hendak melukiskan keberadaan Allah yang jamak.

Lalu, mengapa harus digunakan dalam bentuk jamak? Pertanyaan ini banyak memunculkan jawaban-jawaban yang bersifat spekulatif. Bahkan ada yang mengatakan bahwa penggunaan bentuk jamak adalah gambaran trinitas dalam Perjanjian Lama. Ini jelas merupakan argumen yang tanpa landasan yang jelas.

Dalam nats ini, kata Elohim mengikuti kata kerja tunggal, bara. Karena itu, kata Elohim di sini benar-benar digunakan dalam bentuk tunggal. Menurut tradisi Ibrani, kata jamak yang digunakan dalam bentuk tunggal berarti adanya perluasan makna dari kata tersebut atau adanya tekanan khusus terhadapnya.

Menurut akar katanya, kata Elohim, dari kata El, berarti “kekuatan.” Ketika menjadi bentuk jamak, kata ini memiliki makna “kekuatan atas kekuatan” atau “kekuatan tertinggi.” Dalam nats ini, kata Elohim tidak digunakan sebagai nama pribadi. Menurut Westermann, seorang ahli tafsir Perjanjian Lama dari Jerman, kata Elohim menunjukkan bahwa Allah adalah Yang Bertindak dan Berkarya. Realitas Allah nampak dalam karya-Nya; Ia bukanlah sebuah entitas yang terpisah dengan karya-karya-Nya.


(4) Kalimat hashshamayim we eth ha’arets tidak bisa dimaknai secara harafiah sebagai “langit dan bumi.” Meskipun, secara harafiah memang kata shamayim berarti “langit” atau “surga” dan kata arets berarti “bumi” atau “dunia.”

Ada pengaruh tradisi semitik yang sangat umum dalam teks ini, suatu tradisi yang juga dikenal oleh orang-orang Mesir, Akkad, dan Ugarit. Dalam tradisi ini, penggunaan kata “langit dan bumi” sebetulnya untuk menggambarkan “alam semesta” bukan dalam arti tata surya dan jagad raya, tetapi mencakup segala sesuatu yang nampak dan tidak nampak.

Shamayim menggambarkan “surga” sebagai ‘kediaman’ Allah sedangkan arets menggambarkan “dunia” sebagai kediaman manusia. Inipun tidak bisa diartikan secara harafiah. Stadelmann, dalam bukunya berjudul Hebrew Conception of the World, mengatakan bahwa arets menggambarkan wilayah dimana manusia berpikir dapat hidup. Dalam konteks masyarakat Ibrani waktu itu, lautan dan langit bukanlah suatu tempat dimana manusia dapat hidup.