Tampilkan postingan dengan label Pengetahuan Umum Kristen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengetahuan Umum Kristen. Tampilkan semua postingan

09 Maret 2011

RABU ABU



Dalam agama Kristen tradisi barat (termasuk Katolik Roma dan Protestanisme), Rabu Abu adalah hari pertama masa Pra-Paskah. Ini terjadi pada hari Rabu, 40 hari sebelum Paskah tanpa menghitung hari-hari Minggu atau 44 hari (termasuk Minggu) sebelum hari Jumat Agung.

Pada hari ini umat yang datang ke Gereja dahinya diberi tanda salib dari abu sebagai simbol upacara ini. Simbol ini mengingatkan umat akan ritual Israel kuna di mana seseorang menabur abu di atas kepalanya atau di seluruh tubuhnya sebagai tanda kesedihan, penyesalan dan pertobatan (misalnya seperti dalam Kitab Ester 4:1, 3). Dalam Mazmur 102:10 penyesalan juga digambarkan dengan "memakan abu": "Sebab aku makan abu seperti roti, dan mencampur minumanku dengan tangisan." Biasanya pemberian tanda tersebut disertai dengan ucapan, "Bertobatlah dan percayalah pada Injil."

Sumber : wikipedia

08 Desember 2010

Pohon Natal Tertua, Umurnya 124 Tahun


Tak lama lagi umat Nasrani di seluruh dunia akan merayakan Natal. Mereka biasanya menyambut Natal dengan memasang pohon terang di dalam rumah atau di luar rumah.

Tradisi memasang pohon terang dengan segala dekorasinya sudah turun temurun. Seperti dalam keluarga Parker di Inggris. Namun yang unik, keluarga ini masih menggunakan pohon Natal yang dibeli oleh anggota keluarga mereka pada 1886. Pohon ini mungkin menjadi pohon Natal imitasi tertua di dunia.

Pohon natal keluarga Parker berukuran kecil, hanya 14 inchi atau sekitar 35 sentimeter. Pemilik pohon ini sekarang adalah Paul Parker, dia menjadi generasi ketiga yang mewarisi pohon natal ini. Paul mendapat pohon ini pada 2008 ketika ibunya, Janet wafat.

"Tentu saya sanggat bangga memajangnya tahun ini," kata Paul, 45 tahun. "Pohon ini telah menjadi bagian dari perayaan Natal di keluarga kami selama bertahun-tahun," ujarnya.

Pohon Natal ini pertama kali dibeli oleh buyut Paul yang juga bibi dari ibunya, Lou pada 1886. Lou yang wafat mewarisi pohon ini kepada Janet, ibu Paul pada 1940. Rumah lelang Christie di London telah memastikan keaslian pohon ini, bahkan Guinness Book of Records mencatat pohon ini sebagai pohon Natal tertua.

Sumber : http://www.tempointeraktif.com/hg/oops/2010/12/08/brk,20101208-297402,id.html

01 April 2010

TIGA PULUH UANG PERAK


Salah satu cerita yang paling keji dalam Alkitab dalah mengenai Yudas Iskariot, murid yang mengkhianati Kristus dengan bayaran tiga puluh uang perak. Walaupun sulit untuk menentukan secara pasti seberapa nilai tiga puluh uang perak itu, satu hal yang kita ketahui, jumlah itu tidaklah seberapa.

Mata uang denarius dari Roma, merupakan mata uang yang paling umum dipakai pada masa Yesus hidup. Dibuat dari perak, pada mata uang ini terdapat gambar kepala kaisar. Karenanya, rakyat Yahudi pada masa itu dilarang menggunakan mata uang itu sebagai persembahan mereka dalam kebaktian agama; untuk itu, mereka menukarkan mata uang ini dengan kepingan perak. Para penukar uang pada masa itu menukarkan denarius atau syikal menjadi keping perak dengan memotong 12 persen sebagai ongkos tukar.

Mata uang denarius dalam kurs dolar sekarang nilainya sekitar 20 sen dolar sesuai dengan berat dan kandungan peraknya. Namun pada masa itu, satu denarius sama dengan upah kerja satu hari seorang pekerja umum, jadi daya belinya cukup besar. Sekalipun demikian, berdasarkan perhitungan ini kita melihat bahwa Yudas mengkhianati Kristus hanya untuk mendapatkan sejumlah upah satu bulan kerja – jumlah yang hampir tidak berarti.

Kitab Zakharia telah menubuatkan bahwa sejumlah itulah yang akan dibayarkan bagi seorang Mesias (Za 11: 12). Ketika Yudas menerima tiga puluh keping mata uang perak sebagai ganti nyawa Kristus, ia menggenapi nubuat ini (Mat 26:15). Jumlah itu juga senilai dengan harga seorang budak belian pada masa itu.


Sumber : Dunia Perjanjian Baru (by Packer, Tenney, White). 1993

14 Desember 2009

BINTANG BETLEHEM DAN TAHUN KELAHIRAN ALMASIH


oleh : Bambang Noorsena

Kalau begitu, kira-kira bintang apakah yang dilihat orang Majus tersebut, yang mereka tafsirkan sebagai pertanda akan hadirnya seorang Raja Yahudi? Johannes Kepler, yang disebut sebagai bapa astronom Barat yang hidup pada abad ke-17, menerangkan Bintang Natal (The Christmas Star) atau Bintang Betlehem (The Betlehem’s Star) itu secara astronomik, sebagai konjungsi planet Jupiter dan Saturnus pada konstalasi Pisces. Dan konjungsi ini terjadi pada bulan Desember tahun 7 sebelum Masehi. Sebenarnya, Kepler bukan orang pertama yang mencari jawaban mengenai bintang itu dari segi astronomi. Seorang Bapa Gereja zaman permulaan, Klement dari Iskandariyah (hidup sekitar tahun 200), menulis bahwa "Bintang yang dilihat orang saleh di sebelah timur itu adalah bintang Novae". Bintang ini muncul pada waktu-waktu tertentu, kadang-kadang samar-samar, lalu sangat terang dan berangsur-angsur menghilang. Bintang Novae ini juga ditulis oleh ahli perbintangan China, bernama Ma Tuan Lien yang dikumpulkan dalam ensiklopedia China kuno berjudul: Wen Hien Thung Kao, yang menurut R.A. Rosenburg pernah menampakkan diri kira-kira pada zaman kelahiran Kristus.

Bintang manakah yang dapat disamakan dengan bintang Timur yang dilihat orang Majus itu? Dalam bahasa aslinya, kata yang diterjemahkan "di Timur", en te anatole. Artinya, bisa diterjemahkan juga: "yang terbit sangat terang". In its rising. Barangkali ini mencerminkan pengalaman dahsyat orang Majus karena sangat terang benderangnya bintang itu. Sangat pantaslah, bahwa sekian trilyun kali cahaya matahari harus dipancarkan untuk menandai kelahiran "Sang Terang Dunia". Orang-orang Majus itu mesti mencari makna astrologisnya. Kalau diterima bahwa bintang itu adalah konjungsi planet Jupiter dan Saturnus pada tahun 7 SM, maka ini cocok dengan lempengan batu ditemukan di Menara kuno Zippar, di tepi sungai Efrat. Jadi tempatnya juga sekaligus cocok dengan asal orang-orang Majus tadi. Bunyi lempengan batu itu, dalam bahasa Babel kuno: MULLU-BABA U KAIWANU INA ZIPPATI. Artinya: "Jupiter dan Saturnus dalam konstelasi Pisces." Perhitungan tanggalnya juga cocok, Desember 7 SM. Bukti-bukti arkeologi lain juga dijumpai dalam sebuah papyrus dari tahun 42 Masehi, yang juga mencatat konjungsi 2 planet itu. Sekarang papyrus ini disimpan di Berlin. Kembali ke lempengan Zippar dan hubungannya dengan orang Majus. Perlu saya tambahkan, bahwa lempengan Zippar ini pertama kali ditemukan oleh seorang sarjana Jerman bernama P.Scanable pada tahun 1925. Menurut Scanable, di kota Zippar terdapat sekolah Astrologi yang terkenal pada zaman Babel kuno.

Tadi saya kutip dari keterangan Aziz A. Atiya, bahwa orang-orang Majus berbicara dalam bahasa Arami. Lempengan Zippar menyebut dalam bahasa Babel KAIWANU, istilah Aramnya: KAWBAH. Jadi mungkin ucapan orang Majus itu mendekati dialeknya dengan terjemahan Peshitta: Hazin Geir Kawbah be Madintah. "Kami telah melihat bintangnya yang terbit di Timur". Dalam proses pertukaran bunyi, the ponetic corespondence, itu lazim terjadi dalam kajian bahasa serumpun. Kaiwanu, menjadi: Kawbah, dalam bahasa Aram. Dan paralel istilah bahasa Arabnya, barangkali: Kawakib, Kawkabat. Artinya sama, bintang atau sebuah bintang. Nah, lebih menarik lagi kalu kita coba melacak kira-kira adakah makna tertentu dalam "simbols of Babylonian Astrology". Ternyata ada. Bintang-bintang itu, dalam astrologi Babel kadang-kadang diidentikkan dengan bangsa-bangsa tetangga mereka, selain dikaitkan dengan makna lain. Dari hasil penelitian naskah-naskah kuno agama Babel, Pisces itu lambang the End Times, "zaman akhir". Jupiter sebagai planet terbesar, the royal planet in Babylonian astrology, melambangkan The Ruler, Raja atau Penguasa. Sedangkan Saturnus melambangkan Negara Palestina. Jadi, berdasarkan cara berfikir orang Babel, fenomena perbintangan itu dapat diartikan: "Seorang Raja, Penguasa telah datang pada zaman akhir ini, di Palestina". Nah, apakah kira-kira saja orang-orang Majus itu mencari lahirnya Raja Yahudi itu, berdasarkan makna simbol tersebut? Wallahu a’lam. Tapi kalau dikait-kaitkan begitu, akhirnya semakin jelas apakah latar belakang kisah-kisah Natal yang dicatat dalam Injil.

11 Mei 2009

PENGAKUAN IMAN RASULI DALAM BAHASA JAWA

Yuk belajar berbahasa Jawa lagi! Kali ini kita akan bersama2 menghafalkan Pengakuan Iman Rasuli dalam Bahasa Jawa (Sahadhat Kalih Welas) dengan tujuan supaya teman2 bisa lancar mengucapkannya setiap mengikuti ibadah / kebaktian dengan bahasa pengantar Bahasa Jawa.


SAHADHAT KALIH WELAS
(inggih punika Pangaken Pitados Rasuli)

Kawula pitados dhateng Allah Sang Rama, ingkang Mahakawasa, ingkang nitahaken langit kaliyan bumi.

Inggih pitados dhateng Yesus Kristus ingkang Putra ontang-anting, Gusti kawula.

Ingkang kabobotaken dening Roh Suci, miyos saking prawan Maryam.

Ingkang nandhang sangsara nalika jumenengipun Pontius Pilatus, kasalib, nglampahi seda, lajeng kasarekaken, tumedhak dhateng ing teleng palimengan.

Ing tigang dintenipun wungu malih saking antawisipun tiyang pejah.

Lajeng sumengka dhateng ing swarga, pinarak wonten ing tengenipun Allah Sang Rama Ingkang Mahakawasa.

Saking ngriku inggih badhe rawuhipun ngadili tiyang ingkang gesang kaliyan ingkang pejah.

Kawula pitados dhateng Roh Suci.

Kawula pitados wontenipun pasamuwan Kristen satunggal ingkang suci sarta wradin, inggih patunggilanipun para suci.

Punapa-dene pangapuntening dosa;

Tanginipun raga;

Sarta gesang langgeng.

Sumber : Kidung Pasamuwan Kristen. BMGJ. 2001

02 April 2009

DOA BAPA KAMI DALAM BAHASA LATIN


Inilah Doa Bapa Kami dalam Bahasa Latin :

Pater noster qui es in caelis;
Sanctificetur nomen tuum;
Adveniat regnum tuum;
Fiat voluntas tua sicut in caelo et in terra;
Panem nostrum quotidianum da nobis hodie;
Et dimitte nobis debita nostra
sicut et nos dimittimus debitoribus nostris;
Et ne nos inducas in tentationem
sed libera nos a malo
(Quoniam tibi est regnum et potestas et gloria in saecula)
Amen



Berikut ada beberapa versi dari youtube, silakan diklik : A, B, C

01 April 2009

PASKAH


PASKAH merupakan sebuah hari raya yang diadakan untuk memperingati bebasnya Israel dari Mesir. Nama “Paskah” itu sendiri berasal dari Bahasa Kasdim yang kemudian diadopsi ke dalam Bahasa Ibrani, Pesakh, berarti “dilewati.” Nama ini diambil dari peristiwa ketika anak-anak sulung di Mesir meninggal akibat tulah yang dijatuhkan kepada mereka. Sementara, rumah-rumah orang Israel (baca: Ibrani) ‘dilewati’, sehingga anak-anak sulung mereka selamat. Tanda yang digunakan sebagai simbol Paskah adalah darah anak domba (Keluaran 12:1-13).


Dalam tradisi Yahudi, Paskah dirayakan selama tujuh hari pada tanggal 15-21 Abib atau Nissan menurut almanak Ibrani. Hari raya ini juga dikenal dengan sebutan ‘Hari Raya Roti Tidak Beragi,’ sebab selama tujuh hari dalam peringatan itu, orang Yahudi harus memakan roti yang tidak beragi (Keluaran 12:15-20; 23:15).

Pada tanggal 10 Nissan, seorang kepala keluarga sudah harus memisahkan anak domba atau lembu. Anak domba itu haruslah tanpa cacat. Dengan kata lain, anak domba itu haruslah anak domba yang terbaik dari kumpulan anak domba. Itulah yang harus dipersembahkan.

Sudah menjadi tradisi turun-temurun di antara orang Yahudi, bahwa Paskah dirayakan secara besar-besaran. Pada hari raya ini, orang-orang Yahudi kembali ke Yerusalem (band. Lukas 2:41-42; Yohanes 11:55). Dengan demikian, Yerusalem menjadi kota yang ramai. Pemerintah Romawi yang ketika itu menjajah kawasan ini tentu saja bersikap ekstra ketat. Apalagi pada waktu itu berkembang isu akan adanya pemberontakan dari kelompok gerilyawan Yahudi (kemungkinan kelompok Zelotis).

Yesus, sebagai seorang Rabi, juga menyempatkan diri untuk datang ke Yerusalem. Pada waktu itu, banyak orang yang telah memilih untuk menjadi pengikut-Nya. Berbagai kelompok dari berbagai latar belakang senantiasa mengawal Yesus kemana pun Ia pergi. Demikian juga, setiap kunjungan Yesus selalu dinanti-nantikan oleh banyak orang. Tak heran, kunjungan-Nya ke Yerusalem mendapatkan sambutan yang luar biasa (Matius 21:8-11; Markus 11:8-10; Lukas 19:37-38).

Secara politik dapat dikatakan bahwa Yesus telah memiliki cukup massa untuk melakukan kudeta, dan secara teologis, Ia memiliki cukup pengikut untuk mendirikan sebuah mazhab atau aliran keagamaan yang baru. Mungkin, inilah yang menjadi dasar perhitungan Petrus, sehingga ketika Yesus hendak ditangkap, ia tidak segan-segan mencabut pedangnya. Itu juga yang sekaligus melemahkan pandangannya tentang Yesus, ketika ia melihat Yesus seperti tidak berdaya dalam pengadilan rekayasa kelompok Farisi dan Saduki.

Kunjungan Yesus ke Yerusalem kali ini bukan semata kunjungan dalam rangka Paskah. Dapat dipastikan, ini bukanlah kunjungan pertama-Nya ke Yerusalem. Sejak kecil, orang tua-Nya telah membawa-Nya ke Yerusalem (Lukas 2:22). Demikian juga setiap Paskah tiba, Yesus menyempatkan datang ke Yerusalem.

Namun, kunjungan Paskah kali ini berbeda. Pertama, saat itu memang merupakan waktu bagi Yesus untuk melayani di Yerusalem setelah menghabiskan sebagian besar waktu-Nya dengan pelayanan-Nya di berbagai kota di sekitar Yerusalem. Kedua, Yesus mengetahui dengan pasti bahwa saat itulah waktu-Nya untuk menyelesaikan tugas suci-Nya.

Itulah sebabnya para penulis Injil menaruh perhatian khusus terhadap Paskah menjelang kematian Yesus (Matius 26; Markus 14; Lukas 22; dan Yohanes 13; 18-19). Mereka semuanya menuliskan dengan jelas bagaimana Yesus mengetahui persis bahwa Paskah adalah waktu terakhir, dimana Ia akan diserahkan untuk disiksa dan disalibkan (Matius 26:2; Markus 14:18; Lukas 22:15; dan Yohanes 13:1).

George R. Beasley-Murray, seorang profesor dalam bidang tafsir Perjanjian Baru di Southern Baptist Theological Seminary, Louisville, mengatakan bahwa melalui perikop ini (khususnya 13:1-3), penulis Injil Yohanes menuangkan lima elemen utama dari pemahaman teologinya.

Kelima elemen utama yang dimaksud adalah: (1) Pengetahuan Yesus tentang “saat-Nya” atau “waktu-Nya” (band. 12:27); (2) kasih-Nya kepada mereka yang menjadi milik-Nya (band. 1:11); (3) segala sesuatu telah diserahkan Bapa kepada-Nya (band. 3:35); (4) kenyataan bahwa Ia datang dari Allah dan kembali kepada Allah (band. 16:28); dan (5) Iblis yang senantiasa bertindak sebagai penentang karya Allah (band. 12:31; 13:27).
Saat-Nya sudah tiba...

Frase ini memiliki makna yang sangat dalam. Kata “saat” atau “waktu” (hôra, Yun.) menunjukkan tujuan kedatangan-Nya dunia (12:27). Waktu juga menunjukkan bagaimana Allah akan memuliakan Yesus dan Yesus akan memuliakan Allah (12:24-26). Melalui waktu itu juga, pengadilan atas dunia dan penaklukan terhadap Iblis digenapi (12:31-32).

Penulis Injil Yohanes menyebut waktu itu sebagai waktu untuk metabê ek tou kosmou toutou pros ton Patera (beralih dari dunia ini kepada Bapa). Istilah ini merupakan sebuah istilah yang sudah lazim di kalangan Yahudi untuk menyebutkan soal kematian. Namun, dalam ayat ini, Yohanes memberi makna lebih dalam. Ia menggunakan kata ini bersama-sama dengan kata paskha (terjemahan Yunani untuk kata pesakh, Ibr). Secara harafiah, kata metabê ek memiliki pengertian yang sejajar dengan kata pesakh “melewati.”

Dari sinilah mestinya gereja melandaskan konsep “pemanggilan keluar” (ek kaleô atau ekklesia Yun.). ‘Dipanggil keluar’ bukan berarti kehilangan perhatian terhadap dunia apalagi menjauhi dunia.

Penulis Injil Yohanes dengan sangat cermat mengulangi makna kasih Yesus dalam ayat ini, “sama seperti Ia senantiasa mengasihi murid-murid-Nya demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya.” Jadi, ‘beralih dari dunia’ bukan berarti ‘berpaling dari dunia.’ Yesus ‘beralih dari dunia’ bukan karena Ia membenci dunia, melainkan sebaliknya, karena kasih-Nya kepada dunia.

Kasih yang besar itu jugalah yang membawa Yesus ke Yerusalem. Kasih yang tidak sekedar mengantar-Nya untuk menyembelih kurban Paskah, melainkan lebih dari itu. Ia datang sebagai Anak Domba Paskah itu sendiri. Sang Kurban yang membebaskan manusia dari keterkungkungan akibat dosa. Tidak ada ‘kebebasan’ yang lebih besar daripada kebebasan yang Yesus tawarkan!

04 Maret 2009

DOA BAPA KAMI DALAM BAHASA ARAM



Inilah Doa Bapa Kami yang diajarkan oleh Tuhan Yesus dalam bahasa aslinya (Bahasa Aram) :

Abwoon d'bwashmaya,
Nethqadash shmakh,
Teytey malkuthakh.
Nehwey tzevyanach aykanna d'bwashmaya aph b'arha.
Hawvlan lachma d'sunqanan yaomana.
Washboqlan khaubayn
aykana daph khnan shbwoqan l'khayyabayn.
Wela tahlan l'nesyuna.
Ela patzan min bisha.
Metol dilakhie malkutha wahayla wateshbukhta l'ahlam almin.
Ameyn.



Berikut ada beberapa versi dari youtube, silakan diklik : A, B, C, D, E

23 Februari 2009

KANON PERJANJIAN LAMA

Kata "kanon" diambil dari istilah Yunani: "kane" yang artinya "tongkat pengukur" atau bisa juga diartikan "standar atau patokan." Sejak abad ke-4 Masehi, istilah ini digunakan sebagai istilah teologi yang merujuk pada kumpulan dan susunan kitab yang layak untuk disebut "kitab suci." Secara sederhana, "kanon" dapat diartikan "daftar kitab-kitab suci." Proses penyusunan kanon disebut "kanonisasi," sedangkan kitab-kitab yang diterima dalam kanon disebut kitab-kitab kanonik.

Secara umum, kita dapat membedakan kanonisasi Perjanjian Lama dan kanonisasi Perjanjian Baru. Dalam ensiklopedi kali ini, kita akan berbicara tentang kanonisasi Perjanjian Lama. Kanonisasi Perjanjian Lama dapat dibedakan antara Kanonisasi Yahudi, Samaritan, dan Kristen. Jika kanonisasi Yahudi dan Samaritan nyaris seragam, kanonisasi Kristen justru beragam. Dalam ensiklopedi ini, akan dibatasi pada kanonisasi Katolik dan Protestan.

Kanon Mula-mula

Tulisan berbahasa Ibrani yang tertua yang pernah ditemukan adalah tulisan yang ditemukan di Gezer dan diperkirakan berasal dari abad ke-8 M. Tulisan itu berisi daftar bulan dalam satu tahun dan hubungannya dengan pertanian, sama sekali tidak berisi teks-teks kitab suci. Naskah-naskah kitab suci tertua yang masih ada diperkirakan berasal dari tahun-tahun setelah itu.

Menurut kitab Makabe, Imam Besar Ezra, pada sekitar tahun 400 SM, tak lama setelah bangsa Israel diizinkan kembali ke negerinya oleh Raja Persia, membawa kitab-kitab Musa (Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan dan Ulangan) dari Babel ke Israel.

Kumpulan kitab-kitab Musa itu dianggap sebagai Kanon Ezra yang penyusunannya diduga persis seperti susunan yang ada sekarang, mengingat Ezra adalah seorang pakar Taurat Musa.

Dalam 2Makabe 2:13 dikatakan juga bahwa pada periode yang sama, Nehemia menemukan suatu kumpulan kitab mengenai para raja dan nabi, tulisan-tulisan Daud, dan surat-surat para raja mengenai pembayaran nazar. Kedua kitab Makabe (1 dan 2) juga mengatakan bahwa Yudas Makabe mengoleksi kitab-kitab suci. Namun, tidak disebutkan kitab-kitab apa saja itu.

Yesus bin Sirakh, sekitar tahun 180 SM, menyebutkan daftar nama yang urutannya seperti dalam Taurat (Tora), kitab para Nabi (Nevi’im), dan beberapa nama dalam kitab-kitab tulisan atau sastra (Kethuvim). Dalam daftarnya itu, Sirakh tidak menyebut nama Rut, Kidung Agung, Ester, Daniel, dan Ayub.

Septuaginta (LXX): Kanon Aleksandria

Ketika Yunani melakukan ekspansi besar-besaran, dunia memasuki periode Hellenisasi. Pada masa pemerintahan Aleksander Agung, dibangunlah sebuah kota Hellenis di Mesir menurut namanya, yaitu kota Aleksandria, sekitar tahun 332 SM. Di sana, banyak terdapat orang-orang Yahudi yang lari dari Palestina ketika Bait Suci Salomo dihancurkan oleh Babel (586 SM).

Komunitas Yahudi ini mengalami pengaruh langsung dari budaya dan bahasa Yunani (Hellenis), sehingga banyak di antara mereka justru lebih menguasai Bahasa Yunani, sementara Bahasa Ibrani nyaris menjadi bahasa mati.

Melihat hal itu, para sarjana Yahudi yang kira-kira berjumlah 72 orang berkumpul di Aleksandria pada sekitar abad ke-3 sampai dengan abad pertama SM. Mereka menerjemahkan kitab-kitab suci berbahasa Ibrani ke dalam Bahasa Yunani Koine. Terjemahan itu dikenal dengan nama Septuaginta atau disingkat LXX (artinya "tujuh puluh" sesuai jumlah sarjana Yahudi yang menerjemahkannya).

Selama bertahun-tahun, Septuaginta menjadi kanon Yahudi. Naskah ini menyebar di seluruh wilayah berbahasa Yunani dan menjadi dasar penggunaan istilah-istilah teologi dalam Bahasa Yunani yang kemudian juga digunakan oleh para penulis Perjanjian Baru. Dua pakar Yahudi pada waktu itu, yaitu Philo Judaeus (pakar filsafat) dan Yosefus (pakar sejarah) menyebut Septuaginta sebagai inspirasi ilahi.

Kitab-kitab yang masuk dalam Septuaginta berdasarkan urutannya adalah:

1. Genesis (Kejadian)
2. Eksodos (Keluaran)
3. Leuitikon (Imamat)
4. Arithmoi (Bilangan)
5. Deuteronomion (Ulangan)
6. Iesous Naue (Yosua)
7. Kritai (Hakim-hakim)
8. Routh (Rut)
9. Basileion Alfa (1Samuel)
10. Basileion Beta (2Samuel)
11. Basileion Gamma (1Raja-raja)
12. Basileon Delta (2Raja-raja)
13. Paraleptomenon Alfa (1Tawarikh)
14. Paraleptomenon Beta (2Tawarikh)
15. Esdras Alfa (1Esdras)
16. Esdras Beta (Ezra-Nehemia)
17. Esther (Ester)
18. Ioudith (Yudit)
19. Tobit (Tobit)
20. Makkabaion Alfa (1Makkabe)
21. Makkabaion Beta (2Makkabe)
22. Makkabaion Gamma (3Makkabe)
23. Psalmoi (Mazmur)
24. Proseukhe Manasse (Doa Manasye)
25. Iob (Ayub)
26. Paroimiai Solomontos (Amsal 1-29)
27. Ekklesiastes (Pengkhotbah)
28. Asma Asmaton (Kidung Agung)
29. Sofia Salomontos (Hikmat Salomo)
30. Sofia Iesou Seirakh (Hikmat Yesus Sirakh)
31. Osee (Hosea)
32. Amos (Amos)
33. Mikaias (Mikha)
34. Ioel (Yoel)
35. Obdiou (Obaja)
36. Ionas (Yunus)
37. Naoum (Nahum)
38. Ambakoum (Habakkuk)
39. Sofonias (Zefanya)
40. Aggaios (Hagai)
41. Zakharias (Zakharia)
42. Aggelos (Maleakhi)
43. Esaias (Yesaya)
44. Ieremias (Yeremia)
45. Baroukh (Barukh)
46. Threnoi (Ratapan)
47. Epistole Ieremiou (Surat Yeremia)
48. Iezekiel (Yehezkiel)
49. Daniel (Daniel)
50. Makkabaion Delta Parartema (4Makkabe)

Sekolah dan Konsili Yavne (Yamnia)

Pada tahun 66 M, sebuah gerakan revolusi Yahudi terjadi secara besar-besaran di Yerusalem, untuk menentang pendudukan Romawi atas wilayah itu. Akibatnya, pada tahun 70 M, Romawi melancarkan serangan balik dengan menghancurkan Yerusalem termasuk Bait Suci Kedua. Pada waktu itu, Rabbi Yokhanan ben Zakkai menjabat sebagai Tanna. Ia merupakan kontributor utama dalam penyusunan teks-teks inti Mishna.

Situasi yang parah di Yerusalem membuat Rabbi Yokhanan dipindahkan ke kota Yavne atau yang dalam Bahasa Latin disebut "Iamnia." Di sana, ia mendirikan sebuah sekolah hukum Yahudi, yang di kemudian hari banyak memberikan kontribusi bagi penyusunan Mishna, bahkan menjadi sumber dari penyusunan Midrash, Talmud dan Aggada (literatur lain menyebut sekolah hukum Yahudi di Yavne ini dengan sebutan Kolese Yavne. Ada juga yang menyebutnya Akademi Yavne).

Sekolah hukum Yahudi di Yavne diyakini sebagai penerus dari Sanhedrin Agung di Yerusalem. Sanhedrin Agung Yerusalem inilah yang memegang kendali utama dalam peristiwa penyaliban Yesus. Bahkan, menurut penulis Injil Matius, Sanhedrin Agung ini bertanggung jawab atas kebohongan-kebohongan seputar hilangnya mayat Yesus.

Sebagai penerus Sanhedrin Agung Yerusalem, sekolah hukum Yahudi di Yavne memegang peran vital dalam penyusunan hukum-hukum Yahudi. Sejumlah pakar hukum Yahudi yang terkenal pun banyak dilahirkan dari sekolah ini, di antaranya Rabbi Gamaliel Yavne (Gamaliel II), yang terkenal karena diskusinya di Roma dalam membela iman Yahudi terhadap kaum pagan dan Kristen, serta Rabbi Akibba ben Yosef (Rabbi Akiva), yang terkenal karena otoritasnya dalam hal tradisi Yahudi serta sumbangan-sumbangan pentingnya dalam penyusunan Mishna dan Midrash Halakha.

Hal lain yang cukup menonjol dari sekolah ini adalah disusunnya liturgi-liturgi dan doa-doa Yahudi ke dalam bentuk permanen. Di sini juga, Targum Pentateukh diedit dan kemudian menjadi landasan bagi Targum Onqelos.

Ketika Yahudi memasuki masa kegelapan, yaitu ketika Bahasa Ibrani nyaris menjadi bahasa mati dan ketika banyak orang Yahudi yang menjadi Kristen, para ahli dari sekolah ini berkumpul dan mengadakan Konsili pada tahun 90-95 M, yang kemudian dikenal dengan nama Konsili Yavne atau Konsili Yamnia.

Dua keputusan penting dari Konsili ini adalah penolakan terhadap Septuaginta (LXX) dan kutukan terhadap kaum Minim. Kutukan ini mendapat respon dari sejumlah bapak-bapak gereja pada waktu itu.

Dampak dari Konsili ini adalah ditetapkannya penggunaan Bahasa Ibrani untuk kepentingan agama (bahkan bagi orang-orang Yahudi di luar Israel) serta pemisahan antara Yahudi dan Kristen. Meski begitu, banyak orang Kristen yang dulunya beragama Yahudi, masih beribadah di sinagoge-sinagoge Yahudi sampai akhir abad pertama masehi.

Dalam hal Kanon Perjanjian Lama, Konsili Yavne menolak tujuh kitab yang ada dalam Septuaginta (LXX). Setidaknya ada empat kriteria yang ditetapkan dalam Konsili ini mengenai kitab-kitab yang layak masuk kanon. Keempat kriteria tersebut adalah:
1. Harus sesuai dengan Pentateukh
2. Harus ditulis dalam Bahasa Ibrani
3. Harus ditulis di Palestina
4. Harus ditulis sebelum tahun 400 SM.

Berdasarkan keempat kriteria di atas, maka tujuh kitab yang ada dalam Septuaginta (LXX) yang ditolak adalah:

1. Baroukh (Barukh), karena tidak ditulis di Palestina
2. Sofia Iesou Seirakh (Hikmat Yesus Sirakh), karena ditulis setelah tahun 400 SM
3. Makkabaion Alfa (1Makkabe), karena ditulis setelah tahun 400 SM
4. Tobit dan beberapa bagian dari kitab Daniel dan Ester, karena ditulis dalam Bahasa Aram dan ditulis di luar Palestina
5. Ioudith (Yudit), karena ditulis dalam Bahasa Aram
6. Sofia Salomontos (Hikmat Salomo), karena ditulis dalam Bahasa Yunani
7. Makkabaion Beta (2Makkabe), karena ditulis setelah tahun 400 SM dan ditulis dalam Bahasa Yunani

Teks Massoret

Pada abad ke-7 hingga abad ke-11 M, lahirlah kelompok ahli kitab suci Yahudi yang tinggal di sekitar wilayah Babilonia dan Palestina. Kelompok ini kemudian dikenal dengan nama kelompok Massoret, yang mewakili dua sekolah Yahudi yang terkenal pada waktu itu.

Sekolah pertama diwakili oleh Aharon ben Moshe ben Asher (meninggal sekitar tahun 960 M), sedangkan sekolah kedua diwakili oleh Moshe Ben Naftali (sering juga disebut Ya’akov ben Naftali, ada juga yang menyebutnya ben Dawid ben Naftali. Hidup pada tahun 890-940 M). 

Keduanya adalah tokoh-tokoh Massoret yang terlibat dalam perdebatan panjang soal kodefikasi Naskah Ibrani. Perdebatan mereka tidak selesai, sehingga memunculkan dua standard kodefikasi Naskah Ibrani, yaitu kodefikasi ben Asher dan kodefikasi ben Naftali (perbedaan kodefikasi antara keduanya dapat dilihat dalam "Masoret dan Standarisasi Perjanjian Lama").

Kelompok Massoret mengumpulkan manuskrip-manuskrip berbahasa Ibrani dan kemudian membanding-bandingkannya. Hal itu mereka lakukan untuk membuat suatu teks Ibrani standard yang lebih mudah dibaca. Karena itu, salah satu usaha mereka adalah memberikan tanda niqqud (tanda vokal) ke dalam manuskrip-manuskrip kuno tersebut.

Pemberian tanda niqqud sangat penting, mengingat huruf-huruf Ibrani kuno tidak mengenal huruf vokal.

Proses pemberian tanda vokal seringkali membutuhkan tafsir khusus, sebab tidak sedikit kata dalam Bahasa Ibrani yang akan memiliki perbedaan arti hanya karena perbedaan tanda vokal atau cara membacanya, misalnya kata "אב" (‘-v) yang disusun oleh dua huruf Ibrani: alef dan beth. Jika dibaca "av" artinya "bapak." Namun, jika dibaca "ev" artinya menjadi "rumput muda."

Selain masalah pada pemberian tanda vokal, Kelompok Massoret juga diperhadapkan pada perbedaan huruf konsonan antara satu manuskrip kuno dengan manuskrip lainnya. Akibatnya, teks standard yang disusun oleh Kelompok Massoret seringkali memiliki perbedaan dengan beberapa manuskrip kuno yang digunakan sebelumnya.

Para ahli mengungkapkan bahwa jika teks standard Kelompok Massoret dibandingkan dengan manuskrip-manuskrip kuno termasuk dengan Septuaginta (LXX), akan ditemukan sejumlah perbedaan, baik perbedaan kecil maupun perbedaan yang cukup besar.

Untungnya, Kelompok Massoret menyertakan penjelasan-penjelasan dalam naskah mereka, misalnya dalam Yos. 21:37. Dalam teks standard Massoret dijelaskan bahwa frase "empat kota" tidak ditemukan dalam manuskrip-manuskrip kuno tertentu.

Perbedaan penggunaan huruf-huruf konsonan juga ditemukan antara teks standard ben Asher dan teks standard ben Naftali. Perbedaan tersebut muncul karena perbedaan pandangan mereka mengenai manuskrip-manuskrip kuno yang menjadi acuan mereka.

Dua manuskrip kuno, yaitu Aleppo Codex dan Codex Cairensis, menggunakan standard ben Asher. Dan meskipun standard ben Asher dan ben Naftali sama-sama disebut Teks Massoret (TM) atau Massoretic Text (MT). Namun, standard ben Asherlah yang banyak dijadikan acuan para ahli Perjanjian Lama modern. Standard ini juga yang digunakan oleh gereja-gereja Protestan dalam menyusun teks Ibraninya, termasuk naskah Biblia Hebraica Stuttgartensia (BHS) yang digunakan oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI).