02 Mei 2009

KETIKA ALLAH MENGUTUS . . .

Pekerjaan pemberitaan Injil adalah sebuah tanggung jawab yang agung, karena berhubungan langsung dengan Yang Agung. Ini adalah tanggung jawab istimewa setiap orang percaya dan panggilan utama mereka. Keistimewaannya terletak pada bagaimana Allah dengan segala kebesaran, kuasa, kapasitas dan keluarbiasaanNya itu, justru bermitra dengan “debu” untuk menyelesaikan proyek agungNya. Satu hal yang saya tangkap dari jalan yang Ia tempuh ini adalah, besarnya kerinduan Allah untuk intim dengan ciptaan-ciptaan baruNya, Ia ingin melalui kesatuan ini bumi dikembalikan pada tujuan awal masa awal penciptaan, yaitu penuh dengan orang-orang yang takut kepada Allah. 

Pelaksanaan tugas ini dapat dilakukan dengan bermacam-macam cara, disesuaikan dengan konteks budaya masing-masing lingkungan (ladang). Beberapa orang melakukannya dengan cara berinteraksi dengan tetangganya, atau ada juga yang menjangkau teman kerjanya, rekan bisnisnya, ada yang menolong orang-orang miskin, anak-anak sekolah atau teman kostnya. Banyak juga yang pergi kepada saudaranya, keluarganya jauh atau dekat, atau orang tuanya, dan lain-lain. Begitu luasnya, sampai kita tidak menyadari bahwa ternyata mereka (the lost) tinggal di sekitar kita dan setiap hari berinteraksi dengan kita. Bahkan proyek penjangkauan kepada suku-suku yang terhilang dan bangsa-bangsa yang belum mengenal Injil sudah bergerak sejak jaman rasul-rasul dan sampai sekarang ini. Kuasa Injil terus bergerak meluas sampai setiap suku, kaum dan bahasa akhinya mendengar berita baik itu. Luar biasa bukan? Coba dengar dan pikirkan panggilan ini: “Siapa yang mau pergi kepada mereka untuk Aku?” demikian seruan Allah (Yes. 6:8).

Pemahaman kita tentang dunia misi terus berkembang dan sampai sekarang kita memahami bahwa untuk “pergi kepada yang terhilang” tidak lagi harus membutuhkan biaya yang tinggi dan pengorbanan yang besar. Cukup keluar dari kehidupan kita (pintu kamar, pintu rumah, keluar halaman, dst.) dan mulai mengasihi, memahami kehidupan orang lain, dan membagi. Sebuah tindakan sederhana yang bisa kita lakukan secara alamiah. 

Setelah lahir baru dan mendapat tantangan dari pemimpin jemaatnya, Indra, dengan idealismenya, menyadari bahwa dia perlu untuk pergi dan membagi Injil. Dengan semangat menggebu, tiap sore dia dan seorang teman satu gereja pergi ke stadion dan mendatangi tiap-tiap orang yang sedang asyik berolahraga dan mulai menyadarkan orang tentang dosa-dosa mereka, dan menawarkan keselamatan. Ada yang menanggapi, tetapi tanggapan negatif dan tidak sedikit juga yang cuek terhadap mereka. Bahkan beberapa kali juga dia hampir dipukuli, karena dianggap mengkristenkan orang. Caramu itu baik Ndra, tapi kurang bijaksana!

Mengenal Secara Pribadi

Penginjilan bukan sekedar tindakan atau aksi singkat, sekalipun hal itu kadang terjadi dan berhasil. Tetapi adalah sebuah proses yang diawali dengan menginjili diri sendiri. Menaruh diri kita pada pengenalan akan Injil itu. Jika kita belum melakukan langkah awal ini, akan sulit bagi kita untuk memperkenalkan Pribadi yang bahkan kita belum kenal sebelumnya. Seorang prajurit, diawal karirnya selalu menghabiskan banyak waktu untuk berlatih perang, menguasai senjata, mengenal medan, berlatih strategi / cara melumpuhkan lawan, berlatih daya tahan dan survive ketika berada dalam keadaan tertekan, dll. Semua itu dilakukan sebagai persiapan dan strategi, ketika harus berhadapan dengan lawan yang sesungguhnya. Ketidaksiapan seorang prajurit di medan perang sangat berbahaya bagi dirinya dan juga timnya.

Membangun hubungan pribadi dengan Allah, sama artinya dengan latihan bagi seorang prajurit, sebelum pergi berperang. Ini adalah masa-masa dimana kita mulai belajar mengenal dan memahami Allah secara pribadi. Melalui saat teduh dan berdoa setiap hari, kita akan ditolong untuk mengalami damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal. Kemampuan untuk mendengarkan dan mengerti suara Allah akan ditajamkan hari demi hari. Bahkan Janji-janji Allah akan kita nikmati melalui proses ini. Tanpa kita sadari karakter-karakter kita mulai diubahkan, dan itu terjadi oleh kuasa Roh Kudus, bukan oleh kuasa yang lain. Kita diajar oleh Firman Allah langsung dan melihat bagaimana orang-orang kuat di jaman Perjanjian Lama dan Baru mengerjakan bagian mereka sebagai saksi Allah. Roh kita semakin kuat seiring pertumbuhan rohani kita. Ada kalanya Allah membiarkan suatu masalah terjadi, tetapi hal inipun tidak membuat orang yang mengenal Allah menjadi panik, malah meyakini bahwa pasti ada jalan keluar untuk masalah ini. Justru masalah demi masalah semakin menguatkan kebergantungannya pada Allah. Hari demi hari pengenalannya akan Allah terus ditambahkan. Hari demi hari juga dia semakin terampil bagaimana semestinya menggunakan Firman Allah.

Setelah Indra menikmati proses ini, tanpa dia sadari mulai tumbuh belas kasihan di hatinya untuk beberapa teman kuliahnya. Maka mulai banyak waktu dia gunakan untuk mendoakan Robert, Nico dan Desi. Robert dan Desi agamanya Kristen, tetapi gaya hidup mereka sangat tidak mencerminkan anak-anak Tuhan. Sementara Nico adalah orang fokus yang kebetulan memang teman dekat Indra. Indra memegang prinsip bahwa dirinya tidak boleh mendahului doanya untuk menjangkau teman-temannya ini. Setelah merasa cukup mendoakan mereka, sambil tetap terus berdoa, Indra mulai menunjukkan kasih yang lebih nyata lagi kepada mereka.

Jika dulunya hanya sebatas meminjamkan catatan kuliah atau mentraktir mereka dan kebaikan-kebaikan umum lainnya, maka kini teman-temannya ini mulai dibuat heran dengan perubahan watak dan perilaku Indra. Sampai di sini, Injil belum disampaikan secara langsung, tetapi Robert, Nico dan Desi sudah merasakan Injil melalui kehidupan Indra, meskipun mereka tidak tahu bahwa Injil yang membuat semuanya itu. Semakin hari, mereka semakin merasakan secara nyata kebaikan Indra, kasih yang lain dari yang mereka pernah rasakan sebelumnya. Mereka dibuat kagum dan mulai muncul daya tarik untuk mau bisa seperti Indra. Pintu sudah dibuka, selanjutnya terserah Indra...

Tentu saja tidak semua akan berjalan seindah ini. Adakalanya sudah bertahun-tahun berdoa dan mengasihi tetangga, bukannya mereka berubah tetapi kita yang malah tertipu, hanya karena mempercayai mereka. Atau sudah banyak petobat baru, tetapi mereka sulit bertumbuh dan malah kembali lagi ke kehidupan lama. Dan banyak lagi kekecewaan dan kesedihan lain yang dialami. Di mana Engkau di saat-saat seperti ini? 

Abraham tidak melihat dan mungkin juga tidak tahu bagaimana janji tentang bangsa yang besar itu digenapi. Musa dibuat pusing dengan kedegilan bangsa Israel dan akhirnya tidak diperkenankan melihat Tanah Perjanjian itu. Yesaya, Yeremia, dan banyak nabi lain tidak melihat bagaimana nubuatan-nubuatan mereka digenapi. Para Rasul, termasuk juga Paulus, tidak melihat bahwa Injil telah sampai ke tanah Jawa. Mereka hanya yakin bahwa itu akan terjadi. Orang-orang ini dan pahlawan-pahlawan iman lainnya juga telah melewati dan merasakan kesakitan, pergumulan dan tekanan hidup yang berat, penolakan, kekecewaan.

Tetapi keyakinan dan iman mereka tidak mampu dimatikan dengan penderitaan seperti itu. Biarpun secara jasmani mereka akhirnya mati, namun hidup mereka (yang telah diinjili, sehingga yang tampak adalah Injil itu sendiri) tetap hidup dan terus mempengaruhi orang-orang lain lagi, sampai sekarang! 

Kita harus meyakini bahwa apapun juga yang kita lakukan demi kemajuan Injil, adalah mendatangkan buah yang kekal. Mungkin kita seperti Abraham, tidak melihat buah dari pekerjaan kita, tetapi itupun bukan masalah bagi Allah. Dan bukan berarti juga bahwa pekerjaan kita tidak mendatangkan buah, karena bisa jadi orang lain yang melanjutkan pekerjaan kitalah yang menikmati buah itu, atau malah generasi berikutnya? Walahu’ alam. Tetap ada berkat bagi mereka yang bekerja. Dan kalau prosesnya berjalan demikian, bukankah kita semestinya bersyukur, karena kita dijagai dari kesombongan rohani yang justru berpotensi menghancurkan kita. Puji Tuhan bahwa Allah kita kreatif.

Sampai Ke Ujung Bumi

Dan jika ada di antara kita, yang mendapat panggilan khusus untuk menjangkau ke kota lain, suku lain, atau bangsa lain, istilahnya “sampai ke ujung bumi”, percayalah bahwa latihan-latihan rohani kita sangat menolong untuk mampu menjalankan Amanat Agung ini. Di ladang asing, tekanan yang kita hadapi tidak saja berat, tetapi juga aneh, unik dan ra umum. Kita bisa saja menghadapi sesuatu yang benar-benar beda, saya serius dengan hal ini! Semua itu mungkin, karena kita menghadapi lingkungan yang baru, budaya baru, gaya hidup yang baru, orang-orang yang mungkin juga beda ras dengan kita. Tetapi syukurlah bahwa latihan-latihan rohani kita sudah disetting Allah untuk mampu mengatasi perbedaan-perbedaan dan tekanan-tekanan yang seperti apapun juga. Seandainyapun tekanan yang kita hadapi terasa terlalu berat, kita tidak akan canggung atau ragu untuk berteriak lirih:”ya Abba, ya Bapa”, datang pada Allah yang seperti di Matius 11:28, dan mulai menikmati kelegaan yang diberikan Allah. Betapa indah Komandan kita itu. Bahkan ketika kita gagal (terutama untuk taat), maka kasih karuniaNya yang akan menghibur kita. Hubungan yang intim dengan Allah mulanya akan mendatangkan keuntungan bagi kita, karena Injil bekerja di dalam diri kita. Ketekunan dalam melakukan bagian ini memungkinkan kita mengetahui isi hati Allah yang sesungguhnya, dan memungkinkan kita juga untuk berkata “ya” bagi panggilanNya.

Sebagai penutup, saya mau mengingatkan bahwa seorang prajurit yang telah terlatih, tidak akan berhenti berlatih, biarpun sudah hebat dia. Tetapi dia akan terus berlatih, untuk berjaga-jaga dan supaya selalu siap seandainya serangan datang tiba-tiba. 

“Dan mereka semua tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, sekalipun iman mereka telah memberikan kepada mereka suatu kesaksian yang baik.
Sebab Allah telah menyediakan sesuatu yang lebih baik bagi kita; tanpa kita mereka tidak dapat sampai kepada kesempurnaan.”

(Ibrani 11:39, 40)


Dalam kasihNya,

Rudie Ariwibowo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar