20 Februari 2009

BERIMAN DAN HIDUP DALAM JANJI ALLAH

Berapa banyak di antara kita yang percaya bahwa Allah yang kita sembah adalah hidup? Dan berapa banyak yang percaya bahwa Allah kita mati? Jika kita mau belajar mengenai iman dan janji Allah, maka hal utama yang harus kita yakini adalah apakah bagi saya Allah itu nyata atau tidak. Tanpa keyakinan ini, mustahil kita dapat mengalami iman dan janji Allah.

Banyak sekali sekarang ini kita dapati slogan-slogan kristiani yang menyatakan mengenai kuasa iman, doa yang dijawab, menggapai janji Allah, dan lain-lain. Dan kita setuju untuk secara serentak berkata: Amin!, Halleluya. Tapi sedikit sekali tampaknya yang mau dan berani mengalaminya. Ke mana kita saat Allah menantang untuk melakukannya?

BERIMAN
Suatu pagi di pertengahan tahun 1997, saya saat teduh mengenai Markus 11:24. Hari itu tanggal 16 Agustus yang saya tahu sehari lagi adalah hari ulang tahun salah seorang teman saya. Dalam kondisi tidak ada uang sama sekali untuk membeli kado, saya mencoba mempratekkan kebenaran ayat ini. Siang hari setelah itu, Bapak saya tiba-tiba mendatangi saya di teras depan dan memberikan sejumlah uang ke saya tanpa maksud apa-apa. Yang saya tahu, biasanya Bapak akan memberi uang / hadiah / imbalan jika saya mau melakukan suatu pekerjaan tertentu, atau jika ada sedikit uang kembalian dari pembelian sesuatu biasanya itu menjadi milik saya. Itu adalah pengalaman iman saya yang pertama yang memberi pengaruh luar biasa terhadap pengalaman-pengalaman selanjutnya.

Beriman berarti meyakini bahwa Allah akan melakukannya. Syaratnya cuma satu, yaitu percaya. Jika Anda mempercayai saya untuk memimpin sebuah kelompok, itu akan sangat menolong saya untuk dapat melakukannya dengan baik. Tetapi, sedikit saja keraguan sudah cukup untuk mengacaukan saya. Begitu pula dengan kita, sedikit kebimbangan sudah cukup untuk gagalnya sebuah iman. Bukankah Petrus sudah berhasil berjalan di atas air, tapi apa yang kemudian membuatnya jatuh?

Beriman dimulai dari kebutuhan kita akan sesuatu, kita berdoa meminta kepada Allah agar memberikan sesuai dengan yang kita butuhkan, selesai! Mudah sekali ternyata. Yang berat adalah proses selanjutnya, yaitu mempercayai bahwa Allah akan melakukannya dan sikap kita dengan setiap kemungkinan jawabanNya. Paijo boleh berbangga mempunyai pacar secantik dan sepintar Inem. Suatu hari, dia pengin mengirim surat ke Inem. Setelah bergumul semalam-malaman, menyusun kata demi kata menjadi sebuah rangkaian kalimat yang romantis dan puitis, jadilah sebuah surat buat si Inem. Karena terpisah oleh jarak yang begitu jauhnya, maka Paijo berencana untuk mengirim lewat pos saja, “biar ngirit”, pikirnya. Ketika sampai di kantor pos, tiba-tiba dia berpikir: “jangan-jangan nanti salah alamat atau pak pos nggak tahu alamatnya si Inem, wah bisa kacau nanti!”. Lalu Paijo memutuskan untuk mengantarnya sendiri, demi yayang tak apalah. Anggaran yang tadinya hanya Rp 2.000,- membengkak menjadi hampir Rp 10.000,- karena ada beberapa pengeluaran tidak terduga di sepanjang perjalanan. Sampai di rumah Inem, ternyata orangnya sedang pergi arisan ibu-ibu PKK se-RW, yang ada cuma si Mona, pembantu Inem yang baru seminggu kerja di situ. “Gimana kalo kutitipkan si Mona saja yah? Ah, jangan-jangan nanti dia lupa, atau jangan-jangan malah dia yang baca. Biarlah kutunggu saja, toh cuma arisan, bentar juga pulang” pikir si Paijo. Waktu berlalu, sampai kemudian jam 19.47, si Mona datang dengan tergesa-gesa sambil berkata: “Tuan, Non Inem barusan telpon bilang nggak pulang malam ini karena mau pergi ke luar kota ke tempat pacarnya, saya lupa bilang kalo lagi ada tamu, maaf…”. Blaik! Paijo langsung lemes.

Cerita ini mungkin sudah usang, tapi ternyata kita sering bersikap seperti si Paijo: tidak bisa percaya Pak Pos, tidak percaya si Mona, sering berujar: jangan-jangan …. Jika kita senang disebut sebagai orang percaya, apa konsekuensinya? Kita memang tidak bisa memastikan kapan Allah akan menjawab doa-doa kita. Tapi adalah anugerah jika kita diberi kesempatan untuk terlibat dalam proses mengenal Allah, selama masa-masa penantian itu.

Allah tidak pernah main-main dengan doa-doa kita, selalu dituntunnya kita agar setiap permintaan kita benar-benar menjadi berkat bagi kita. Seperti seorang ayah yang menuntun anaknya yang minta mobil-mobilan, diajarinya setia untuk menabung, diajari hidup sederhana, dan seterusnya hingga dapat membeli sebuah mobil sungguhan, meski terkadang dengan sedikit mujizat dari sang ayah. Luar biasa, bukan?

Pasti ada minimal satu sifat Allah yang dikenalkan pada kita melalui jawaban-jawaban doa kita. Ketika akan berangkat ke sebuah acara Persekutuan Mahasiswa, sekelompok anak kost sepakat datang bersama-sama, semua! Tapi ada sedikit masalah, langit kelihatan mendung dan ada banyak jemuran yang masih belum kering. Dengan berani, seorang teman berkata dengan yakin: “Tidak akan hujan!”. Begitulah, setelah pulang dari persekutuan tersebut mereka mendapati pakaian-pakaian itu basah semua karena kehujanan. Apanya yang salah? Bukankah sudah yakin, sepakat lagi! Firman Tuhan bilang 2 orang atau lebih sepakat, permintaannya akan dikabulkan, tapi nyatanya?

Teman-teman kostku, tidak ada yang salah dengan iman kalian. Jika kita yakin segala sesuatu (termasuk hidup kita) berada dalam kedaulatan Allah, maka apapun yang terjadi, apapun yang menjadi jawaban atas iman kita adalah mendatangkan kebaikan bagi kita (Roma 8:28), untuk itu jangan langsung menghakimi Allah dulu.

Yang terpenting dari beriman adalah bukan jawabannya, tetapi buahnya yang semakin meningkatkan kualitas hubungan kita dengan Allah, semakin mendewasakan kita dan semakin membuat kita paham akan siapa Allah bagi kita. Salah satu karunia saya adalah beriman, tetapi tidak selamanya juga Allah menjawab sesuai iman saya. Tapi akan selamanya Allah membuka pribadiNya untuk saya kenal.

HIDUP DALAM JANJI ALLAH
Dunia yang kita hidupi, adalah dunia dengan hari-hari penuh kejahatan. Komitmen untuk taat dan setia kepada Allah merupakan perjuangan tiada henti. Banyak kegagalan, airmata, depresi yang menyertai. Ini adalah peperangan yang mau tidak mau, siap tidak siap kita harus hadapi. Pilihannya hanya dua, menang atau kalah. Tidak ada istilah remis atau damai dalam peperangan ini.

Janji Allah dimaksudkan untuk menjadi kemenangan kita atas peperangan ini. Ketika suatu janji dinyatakan Allah, maka itu berarti jaminan kemenangan menjadi milik kita. Saat janji diucapkan adalah saat iblis dan rombongannya lari ketakutan, karena kekalahan mereka sudah pasti akan terjadi. Allah tidak pernah lalai untuk melunasi janjiNya itu (Bil. 23:19).

Para tokoh Alkitab pada jaman dulu menikmati kemenangannya bukan karena usaha mereka, tetapi justru karena janji Allah yang dinyatakan pada mereka:
  • Nuh, memperoleh janji menjadi satu-satunya keluarga yang diselamatkan dari air bah.
  • Abraham, akan menjadi berkat bagi semua kaum di muka bumi (saat ini sedang digenapi).
  • Yusuf, dijanjikan akan menjadi seorang penguasa.
  • Musa & bangsa Israel, dijanjikan sebuah tanah perjanjian.
  • Yosua, janji luar biasa melalui kakinya (Yos. 1:3,9)
  • dst, sampai kisah pengutusan Pauluspun dimulai dengan sebuah janji Allah (Kis. 13:2), sampai… sekarang dan akan terus berlangsung.

Bagaimana agar memperoleh janji Allah?

Abraham menikmati dengan cara Allah yang menyatakannya sendiri, demikian pula dengan Musa, Yusuf, dll. Daud menerima janji Allah dengan cara meminta kepada Allah, demikian pula dengan Salomo, Raja Yosafat, dll. Jika Allah tidak menyatakan sesuatu kepada kita, maka hendaklah kita memintanya, karena inipun yang diajarkan oleh Yesus, bahwa kita diminta untuk meminta kepada Allah (Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatupun dalam nama-Ku.

Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu. Yoh. 16:24). Jika Allah yang adalah empunya segala sesuatu ini menyatakan kunci berkat yang sedemikian besar, apakah kita akan meminta sesuatu yang kecil? Saya senang dengan kata-kata dari Dawson Trotman: jangan minta kacang goreng! Tapi mintalah bangsa-bangsa! Sanggupkah Allah?

Menanti sampai digenapi
Inilah yang menjadi pertanyaan bagi sebagian besar orang berkaitan dengan daya tahan tiap pribadi untuk menanti Allah menggenapi janjiNya. Orang-orang yang tekun dalam doa dan firman akan terus menikmati masa-masa penantian ini, jika mulai hambar mereka akan senantiasa diteguhkan dan disegarkan oleh Roh Kudus. Orang-orang ini paham, jika suatu janji telah diikrarkan, maka tugas selanjutnya lebih mudah, tinggal terus menabur dan menyiram, dan taat pada Allah. Mengapa demikian, ingat, perjanjian antar dua pihak akan terus berjalan jika masing-masing pihak tetap pada kesepakatan semula dan tidak berusaha menyalahi aturan.

Dulu saya pernah dijanjikan sebuah sepeda balap oleh Bapak saya jika bersedia masuk ke sekolah Kristen, saya menurut dan sepeda itu menjadi milik saya, seandainya saya tidak menurut mungkin kalau berangkat sekolah masih bersama sepeda BMX merah. Begitu pula dengan Allah. Dia akan meneruskan sampai digenapiNya apa yang telah dijanjikanNya jika kita tetap taat, di lain pihak Dia berhak pula membatalkan janjiNya jika kita tidak taat pada Dia.

Musa pernah mengalaminya sekali, dia tidak taat ketika diminta Allah untuk berkata kepada bukit batu agar mengeluarkan air, tetapi dia malah memukul bukit itu, akibatnya dia tidak diijinkan Allah masuk ke negeri perjanjian itu (Bil. 20:12). Salomo, raja terbesar yang pernah hidup, juga mengalami hal ini. Dia tidak selamanya hidup setia kepada Allah Israel, akibatnya janji berkat yang dialamatkan kepada keturunan Daud tidak dilanjutkan Allah, melalui pecahnya kerajaan Israel hingga runtuhnya kerajaan itu pada jaman Nebukadnezar berkuasa di Babel. Janji Allah dapat dibatalkanNya jika kita tidak taat pada Allah.

Anugerah
Ada satu lagi janji Allah, yaitu yang dinyatakanNya tanpa syarat. Janji ini dapat kita istilahkan sebagai Anugerah Allah. Anugerah ini bersifat kekal dan tidak dipengaruhi oleh sikap kita atau ketaatan kita pada Allah. Ketika Allah menyatakan janji kepada Abraham, bahwa dia akan menjadi suatu bangsa yang besar dan akan menjadi berkat bagi semua kaum di muka bumi, ini adalah suatu contoh anugerah Allah (Kej. 17:7). Semula anugerah ini hanya diperuntukkan bagi keturunan yang lahir dari Sara (Kej.21:12), tetapi kemudian dalam perkembangannya berkat inipun berlaku atas keturunan Hagar, yaitu Ismael (Kej.21:13). Kita lihat di sini, janji ini dinyatakan oleh Allah tanpa syarat apapun (bandingkan dengan janji yang dinyatakan pada Daud, mengenai keutuhan kerajaan Israel, 1 Raj. 2:4). Sampai sekarang, setelah ribuan tahun berlalu sejak janji ini dinyatakan, kita masih dan sedang menikmati berkat ini dan sedang terus berlangsung sampai semua kaum di muka bumi mendapat berkat, yaitu mendengar Kabar Sukacita.


Pemilihan atas Israel sebagai umat Allah adalah contoh lain dari anugerah Allah. Israel, adalah suatu bangsa yang paling tegar tengkuk didalam mengikuti illahnya. Ketika berada dalam suasana damai, aman, nyaman, maka ketidaktaatan Israel muncul sehingga seringkali menimbulkan kecemburuan Allah. Akan tetapi Allah tetap menganggap Israel sebagai umat pilihanNya. Kenyataan bahwa Israel pernah dihancurkan, dicerai beraikan Allah adalah juga dalam rangka Allah menunjukkan kasihNya kepada bangsa ini, yaitu memurnikan Israel sehingga menjadi umat yang benar-benar mengasihi Allah.

Penutup
Iman, adalah karunia Allah bagi setiap yang percaya bahwa Allah akan menyertai mereka. Bagian kita adalah melakukannya dan jangan takut atau bimbang. Jika iman kita dijawab, pujilah Tuhan, atau jikapun tidak, Dia tetap Allah kita. Janji adalah kemenangan bagi setiap orang percaya, karena Allah pasti menggenapinya. Jika sesuatu yang besar Allah berikan, mengapa kita minta sesuatu yang kecil? Mintalah pada Allah janji-janji yang besar, jika perlu yang besar sekali, karena Allah pasti memberikannya.


Dalam KasihNya,


Rudie Ariwibowo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar