20 Februari 2009

BERESITH : Kata Pertama dalam Alkitab

"Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi..." (Kej. 1:1)

Dalam naskah Ibrani, kalimat ini berbunyi, "bereshith bara Elohim eth hashshamayim we eth ha’arets". Jika dibaca sepintas, nampaknya tidak ada masalah dengan ayat ini. Namun, di kalangan penafsir Perjanjian Lama, justru ayat ini sangatlah kompleks. Di kalangan Yahudi sendiri berkembang sedikitnya tiga bentuk terjemahan yang berbeda, antara Ibn Ezra, Rashi, dan terjemahan tradisional.

Terjemahan Ibn Ezra dan Rashi menempatkan ayat tersebut di atas sebagai anak kalimat. Namun, Ibn Ezra menganggap ayat 2 sebagai induk kalimat, sementara Rashi menganggap ayat 3 sebagai induk kalimat. Terjemahan tradisional menempatkan ayat 1 merupakan induk kalimat, sedangkan ayat 2 dan 3 hanya sebagai pelengkap.
Saya ingin memfokuskan bahasan pada ayat 1 terlebih dahulu. Ada empat bagian yang harus dipahami, yaitu:

(1) Kata bereshith (“Pada mulanya...”) adalah suatu kata benda abstrak yang berhubungan dengan kata rosh (kepala) dan rishon (pertama). Dalam pemakaiannya, kata ini sering digunakan untuk menunjukkan suatu periode yang bersifat temporer atau sementara, misalnya “dari awal sampai akhir tahun...” (Ul. 11:12) atau “pada permulaan pemerintahan...” (Yer. 26:1). Dalam konteks Kej. 1:1, kata reshith menunjukkan permulaan waktu itu sendiri, bukanlah permulaan dari suatu periode kekekalan (bnd. Yes. 40:21; 41:4).

Terjemahan “pada mulanya...” merupakan suatu bentuk terjemahan yang tidak sepenuhnya menjelaskan makna kata bereshith. Kata bereshith dalam Kej. 1:1 ini lebih tepat diterjemahkan “pada awal dari...” atau “pada permulaan...” untuk menegaskan bahwa permulaan yang dimaksud bukanlah permulaan kekekalan, melainkan permulaan dari penciptaan langit dan bumi. Dengan demikian, maksud dari kata bereshith menjadi lebih jelas. Bukan mengatakan bahwa pernah ada suatu masa dimana Allah belum ada, melainkan untuk menegaskan bahwa inisiatif penciptaan itu berasal dari Allah bukan oleh kekuatan lain di luar Allah.

Kata bereshith merupakan bentuk ekspresi iman yang terkait dengan keseluruhan fondasi hidup. Maksud dari ayat ini adalah bahwa alam semesta beserta segala sesuatu yang ada di dalamnya, bergantung pada suatu konsep ilahi dan hanya bisa dipahami dalam terang rencana Allah.


(2) Kata bara dalam Bahasa Ibrani berarti “menciptakan.” Ini bukanlah kata yang umum digunakan dalam literatur-literatur Ibrani. Ada tiga hal penting yang harus menjadi catatan kita untuk bisa memahami makna kata bara. Pertama, kata ini hanya digunakan jika subyeknya adalah Allah, lebih spesifik lagi, Allah Israel. Kedua, teks yang menggunakan kata bara tidak pernah menyebutkan darimana sesuatu itu diciptakan. Ketiga, kata ini lebih sering digunakan dalam penciptaan manusia (1:27) dan hal-hal yang tidak terduga (Bil. 16:30; Yes. 65:17), selebihnya adalah penciptaan binatang-binatang besar di laut (Kej. 1:21), gunung-gunung (Am. 4:13), dan binatang-binatang (Mzm. 104:30).

Jadi, ada tiga makna penting juga dengan penggunaan kata ini:
1) Hanya ada satu ilah yang menciptakan segala sesuatu, yaitu YHWH (ALLAH). Kata ini sama sekali tidak pernah digunakan dalam hubungannya dengan ilah-ilah pagan.
2) Meskipun tidak menyebutkan darimana sesuatu itu diciptakan, namun bukan berarti bahwa kata bara merupakan bukti untuk memperkuat adanya pandangan creatio ex nihilo. Menurut W.H. Schmidt, seorang penafsir Perjanjian Lama dari Jerman, kata bara berfungsi untuk menjelaskan bahwa segala ide dan konsep penciptaan itu murni berasal dari Allah. Segala sesuatu diciptakan dengan firman dan eksistensi kekekalan-Nya.
3) Kata ini menjelaskan bagaimana Allah menciptakan segala sesuatu dengan kekuatan-Nya yang luar biasa.


(3) Kata Elohim dalam Bahasa Ibrani merupakan bentuk jamak dari kata El. Namun, penggunaan kata ini dalam naskah aslinya sama sekali bukan bermaksud menggambarkan Allah dalam jumlah jamak.

Sangat jelas dan tegas bahwa Perjanjian Lama sangat tidak kompromi dengan politeistik (penyembahan banyak ilah). Shema Yis’ra’el YHWH Eloheinu, YHWH Ekhad (Ul. 6:4) menjadi landasan teologis dalam konsep-konsep teologi Perjanjian Lama yang berkembang kemudian, sehingga tidak ada alasan bahwa kata Elohim hendak melukiskan keberadaan Allah yang jamak.

Lalu, mengapa harus digunakan dalam bentuk jamak? Pertanyaan ini banyak memunculkan jawaban-jawaban yang bersifat spekulatif. Bahkan ada yang mengatakan bahwa penggunaan bentuk jamak adalah gambaran trinitas dalam Perjanjian Lama. Ini jelas merupakan argumen yang tanpa landasan yang jelas.

Dalam nats ini, kata Elohim mengikuti kata kerja tunggal, bara. Karena itu, kata Elohim di sini benar-benar digunakan dalam bentuk tunggal. Menurut tradisi Ibrani, kata jamak yang digunakan dalam bentuk tunggal berarti adanya perluasan makna dari kata tersebut atau adanya tekanan khusus terhadapnya.

Menurut akar katanya, kata Elohim, dari kata El, berarti “kekuatan.” Ketika menjadi bentuk jamak, kata ini memiliki makna “kekuatan atas kekuatan” atau “kekuatan tertinggi.” Dalam nats ini, kata Elohim tidak digunakan sebagai nama pribadi. Menurut Westermann, seorang ahli tafsir Perjanjian Lama dari Jerman, kata Elohim menunjukkan bahwa Allah adalah Yang Bertindak dan Berkarya. Realitas Allah nampak dalam karya-Nya; Ia bukanlah sebuah entitas yang terpisah dengan karya-karya-Nya.


(4) Kalimat hashshamayim we eth ha’arets tidak bisa dimaknai secara harafiah sebagai “langit dan bumi.” Meskipun, secara harafiah memang kata shamayim berarti “langit” atau “surga” dan kata arets berarti “bumi” atau “dunia.”

Ada pengaruh tradisi semitik yang sangat umum dalam teks ini, suatu tradisi yang juga dikenal oleh orang-orang Mesir, Akkad, dan Ugarit. Dalam tradisi ini, penggunaan kata “langit dan bumi” sebetulnya untuk menggambarkan “alam semesta” bukan dalam arti tata surya dan jagad raya, tetapi mencakup segala sesuatu yang nampak dan tidak nampak.

Shamayim menggambarkan “surga” sebagai ‘kediaman’ Allah sedangkan arets menggambarkan “dunia” sebagai kediaman manusia. Inipun tidak bisa diartikan secara harafiah. Stadelmann, dalam bukunya berjudul Hebrew Conception of the World, mengatakan bahwa arets menggambarkan wilayah dimana manusia berpikir dapat hidup. Dalam konteks masyarakat Ibrani waktu itu, lautan dan langit bukanlah suatu tempat dimana manusia dapat hidup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar